7 Game Horor Underrated yang Mulai Terlupakan, Layak Kamu Coba!

Capcom

:

Jika kamu bertanya pada gamer atau kritikus game, apa game horor terbaik dan paling menyeramkan sepanjang masa? Pasti banyak dari mereka yang menjawab Silent Hill 2. Ya, sekalipun game itu rilis tahun 2001 atau dengan kata lain hampir 20 tahun yang lalu, banyak orang masih menganggapnya sebagai pemegang takhta di genre horor.

Berbanding terbalik dengan Silent Hill 2, beberapa game horor justru mengalami ketidakberuntungan. Mereka sebenarnya punya keunggulan dan keunikan yang bikin mereka layak buat diperhitungkan. Tapi karena respons yang jelek dan/atau marketing yang kurang maksimal, mereka pun kurang mendapat perhatian dari para gamer, dan akhirnya terlupakan begitu saja.

Dan inilah, saudara-saudara, 7 game underrated yang mulai terlupakan.

1. Deadly Premonition

Rising Star Games

Kesan saya saat memainkan Deadly Premonition, ini adalah game yang aneh. Saya serasa lagi nonton film kelas B, lengkap dengan dialog-dialognya yang terkesan konyol dan murahan. Kelihatan banget kalau pengembang game ini cuma punya bujet terbatas. Saya bahkan sampai ketawa ngakak saat dengar suara yang dikeluarkan hantu (atau monster) dalam game ini ketika mereka terkena tembakan peluru.

Tapi di sisi lain, Deadly Premonition juga punya keistimewaan dan ciri khas kuat yang tergambarkan lewat setting open-world, jalinan cerita, dan karakter-karakternya. Saya nggak akan heran jika kamu sampai jatuh cinta dengan karakter di game ini (dan juga keanehannya).

Mungkin kamu bakal menemukan banyak orang yang menyebut Deadly Premonition jeleknya kebangetan. Tapi kamu nggak usah mendengarkan dulu penilaian mereka yang pesimistis. Biarkan penilaian kamu sendiri yang berbicara setelah kamu mencoba langsung game ini. Siapa tahu kamu termasuk jajaran orang yang paham kenapa ini game menyabet status cult.

Oh ya, sekuel dari Deadly Premonition saat ini lagi dikembangkan lho.


2. Detention

Red Candle

Detention bukan game yang cocok kalau kamu mencari sensasi horor yang dicampur dengan action plus voice acting mumpuni. Ini adalah game yang mengutamakan eksplorasi berbasis side-scrolling, jelas-jelas bukan game bertipe AAA. Detention juga mengandung banyak simbolisme yang menuntut kamu untuk menguras otak demi memahami keseluruhan ceritanya.

Oh ya, satu lagi: sejarah. Game ini punya unsur sejarah yang kental dengan mengambil latar waktu ketika Taiwan dilanda Teror Putih. Saat itu, orang-orang yang terlibat (dan dicurigai terkait) dengan komunisme ditangkap dan dibunuh. Dan tema itulah yang jadi penghubung krusial dengan karakter utama Detention, Wei Ching Ting dan Fang Ray Shin, dua siswa yang terjebak di sekolah mereka sendiri. Mereka harus mencari jalan keluar seraya berhadapan dengan makhluk-makhluk supranatural yang entah kenapa jadi memenuhi sekolah.

Tema ceritanya memang tergolong berat, tapi cocok banget jika kamu pengin merasakan pengalaman horor yang dibalut narasi jempolan.

3. Haunting Ground

Capcom

Dalam Haunting Ground, kamu cuma punya cara yang terbatas untuk melindungi diri. Tapi sebagai gantinya, kamu bakal ditemani sama anjing bernama Huey. Ia bisa kamu perintah untuk menyerang musuh dan mencari item penting. Dan sebagai bonusnya, Huey juga bisa kamu elus, puji, dan marahi.

Hey, ternyata Blair Witch bukan game pertama di mana kita bisa mengomeli anjing peliharaan.

Saya nggak bisa membantah kalau hubungan antara karakter utama dan anjingnya itu merupakan daya tarik utama dari Haunting Ground. Tapi pesona dari game ini juga terasa di tensi horornya yang menggigit dan plotnya yang diliputi banyak misteri. Dan untuk game yang rilis tahun 2005, game ini juga cukup berani memasukkan seksualitas ke dalam tema utamanya.

4. Silent hill 4: The Room

Konami

Seri keempat Silent Hill ini yang terlahir dari tangan dingin Team Silent ini menuai banyak pro dan kontra. Gamer, termasuk pengikut garis keras seri Silent Hill, pada umumnya mengkritik perubahan cukup radikal di sisi gameplay Silent Hill 4. Misi yang mengharuskan kamu untuk mengawal karakter perempuan pun nggak lepas dari kritikan pedas gamer. Mereka menganggap misi escort tersebut bikin frustrasi.

Kritikan tersebut cukup masuk akal. Tapi menurut saya, gameplay yang diusung SH 4 masih bisa dinikmati kalau kamu udah mulai terbiasa. Sedangkan untuk misi escort, sebenarnya kita bisa melakukan “taktik spesial” sesaat sebelum misi tersebut selesai.

Dengan segala kekurangannya, bagi saya atmosfer horor di SH 4 nggak kalah seram dari tiga game pendahulunya. Aspek cerita dan simbolisme yang diusung di dalamnya juga jadi keunggulan dari game ini. Dan yang paling utama, ide dasar ceritanya keren banget!

5. Obscure

MC2-Microids

Game ini bakalan kelihatan banget umurnya kalau disandingkan dengan game survival horror zaman sekarang. Tapi, bila kamu masih punya konsol PS2 (atau emulatornya), Obscure merupakan pilihan yang seru buat kamu mainkan bareng teman. Yup, karena game ini punya mode co-op.

Bayangkan, kamu dan teman kamu bisa memilih dua dari lima karakter anak sekolahan. Setelah itu, kalian harus menjelajahi sekolah dan melawan monster-monster secara bersamaan. Jika karakter yang kamu atau teman kamu pilih mati, kalian nggak akan bisa bermain lagi memakai karakter tersebut. Kalian harus ganti memakai karakter lain.

Survival horror memang bukan genre yang pas buat dimainkan ramai-ramai. Tapi sesekali teriak bareng teman yang duduk di sebelah kamu saat melawan monster pasti bakalan seru kok.

6. Clock Tower 3

Capcom

Oke, karakter utama yang memakai busur dan panah untuk melawan monster memang agak kelihatan konyol. Pun dengan ekspresi karakter yang terkadang terlalu dramatis, seakan mereka tengah bermain di atas panggung drama, kurang bisa dipandang sebagai keunggulan dari game ini.

Tapi Clock Tower 3 juga sanggup memberikan kita tema dan nuansa kelam yang berasal dari karakter-karakter antagonisnya. Adegan saat karakter utamanya dikejar oleh dan bersembunyi dari pembunuh keji yang membawa-bawa gunting raksasa juga bisa bikin kamu panik. Ya, jika kamu sebelumnya belum pernah main seri Clock Tower, franchise milik Capcom ini memang terkenal karena Scissorman, antagonis yang hobi nenteng-nenteng gunting raksasa.

Meskipun, seingat saya Scissorman di Clock Tower 3 nggak punya hubungan sama Scissorman di game pendahulunya.

7. Siren: Blood Curse

Sony Computer Entertainment

Mengambil latar tempat desa terkutuk dan rumah-rumah tradisional Jepang di mana para shibito berkeliaran, Siren: Blood Curse menyediakan keseraman tingkat tinggi buat kamu yang berani memainkannya.

“Tunggu, tunggu… shibito tuh apaan?”

Shibito bisa disebut mayat hidup yang mirip zombie. Mereka asalnya adalah penduduk desa yang karena satu dan lain hal berubah menjadi sosok mengerikan tersebut. Tapi berbeda dengan zombie, shibito masih memiliki sedikit kesadaran dan melakukan aktivitas seperti manusia. Jadi misalnya, jika seseorang sedang menonton televisi dan memasak sesaat sebelum ia berubah, ia akan terus nonton tv dan masak saat menjadi shibito, nggak peduli layarnya rusak atau makanan yang dimasaknya udah basi.

Oh ya, shibito juga nggak bisa mati. Sekalipun kamu menghajar mereka sampai tergeletak nggak berdaya, mereka bakal bangkit lagi selang beberapa detik kemudian.

Nggak cukup dengan shibito, atmosfer dalam Siren pun semakin terasa mencekam saat kamu harus mengendap-ngendap dalam ruangan yang sempit, sunyi, dan gelap. Sumpahnya, saya bingung kenapa banyak orang yang nggak kenal sama game keren satu ini.

7 game ini memang udah mulai terlupakan. Tapi mungkin kamu bisa teringatkan sama kualitas 7 game ini setelah kamu memainkannya.

Dhika Sacawisastra :