25 Game PS4 Terbaik yang Harus Ada di Daftar Koleksi Kamu

Daripada main togel, mending main game

Kamu punya PS4 tapi bingung mau main game apa? Kalau begitu, kamu sedang membaca artikel yang tepat. Kamu bisa aja baca review satu per satu, tapi itu makan waktu yang lumayan ‘kan? Makanya di artikel ini saya bakal bahas daftar game PS4 terbaik dan kenapa kamu wajib memainkannya. Langsung aja deh kamu check it out daftar game PS4 terbaik pilihan Selipan.

25. The Last Guardian

The Last Guardian
Sony Interactive Entertainment

The Last Guardian awalnya direncanakan untuk dirilis di PS3. Tapi game ini sempat terjebak dalam development hell yang bikin waktu perilisannya mundur sekitar tujuh tahun sampai era konsol PS4. Nggak apa-apa sih, karena hikmahnya, The Last Guardian menjelma jadi salah satu game PS4 terbaik.

Game bergenre petualangan ini mengajak kamu bermain sebagai bocah yang berkelana bareng burung dan anjing raksasa. Hmm, monster semacam anjing sih lebih tepatnya. Berbagai rintangan dan puzzle akan jadi hal-hal yang acapkali akan kamu temui. Tapi tetap, yang paling menarik dari The Last Guardian tersaji dalam kisah persahabatan antara si bocah dan makhluk peliharaannya. Menyentuh banget deh, dijamin!

24. Death Stranding

Kojima Productions

Di Indonesia, produk teranyar dari Hideo Kojima ini sempat disindir sebagai game simulasi kurir JNE. Game ini juga memicu pro kontra di kalangan pengulas game dari situs-situs besar. IGN Amerika bahkan memberinya skor yang terbilang rendah.

Dari fakta-fakta itu saja, sebetulnya kita bisa menarik kesimpulan dasar: ini bukan game yang bisa dinikmati semua orang. Apa yang bikin suatu game bisa disebut menyenangkan atau fun dalam makna tradisionalnya, mungkin nggak akan kamu temukan saat memainkan Death Stranding. Game ini seperti membentuk makna baru dari apa itu “game yang menyenangkan untuk dimainkan.”

Mengendalikan Sam Porter Bridges yang diperankan Norman Reedus, kamu bertugas sebagai pengantar paket. Dan ya, kebanyakan waktu kamu memang akan dihabiskan dengan traveling dari satu titik ke titik lain. Tapi mohon bersabar, karena cepat atau lambat kamu bakal menemukan keunikan dan pesona yang ditawarkan Death Stranding.

23. Until Dawn

Sony Computer Entertainment

Nggak sebatas mengandalkan aktor beken macam Rami Malek dan grafik mumpuni, Until Dawn terbukti sanggup menyuguhkan atraksi horor yang mencekam.

Ceritanya memang cenderung sering dipakai di genre horor. Sekelompok pemuda yang berkumpul di sebuah vila terpencil di gunung diteror oleh pembunuh berantai. Oh iya, saya lupa menambahkan, pembunuh berantainya juga memakai topeng.

Serasa lagi baca sinopsis Friday the 13th? Agak-agak mirip sih, memang. Saya sendiri memasukkan Until Dawn ke dalam daftar bukan karena kagum sama kehebatan ceritanya, melainkan lebih karena faktor gameplay-nya.

Kamu harus memainkan semua karakter yang berusaha bertahan dari ancaman si pembunuh berantai. Saat game mencapai klimaksnya, kamu nggak akan berhenti dibuat tegang deh. Dan karena game ini mengusung konsep interactive, setiap keputusan yang kamu buat bakal memengaruhi nasib karakter yang kamu mainkan.

22. Detroit: Become Human

Quantic Dream

Detroit: Becomes Human mengambil latar masa depan yang futuristik, di mana Android telah menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia. Namun di masa depan yang sekilas kelihatan indah itu, ternyata para android mengalami isu diskriminasi.

Sama seperti Until Dawn, gameplay yang diusung game ini mengharuskan kamu untuk membuat pilihan. Dan pilihan yang diambil akan memengaruhi kelanjutan jalan cerita dan hidup matinya tiga karakter utama. Jadi kamu nggak boleh asal membuat keputusan. Kamu harus melakukan observasi dan mengatur strategi biar bisa membuat pilihan yang tepat.

Satu keunggulan lain dari game ini yang nggak boleh kamu lupakan adalah grafiknya yang… Astaga, aduhai luar biasa! Ini adalah game terbaik David Cage dan Quantic Dream sejauh ini.

21. A Plague Tale: Innocence

Asobo Studio

Sebelumnya saya nggak pernah nyangka bakal dibuat terkesima oleh game satu ini. Siapa sangka kalau wabah tikus bisa jadi ancaman mengerikan dalam dunia video game. Melihat dua mantan bocah aristokrat yang harus bertahan hidup dari terkaman tikus dan kejaran orang-orang jahat, mau nggak mau saya jadi ikut tegang.

Dari segi gameplay dan puzzle, A Plague Tale: Innocence nggak menawarkan sesuatu yang baru. Senjata ketapel batu yang digunakan karakter utamanya boleh aja disebut unik, tapi mode stealth yang mendominasi sesi gameplay-nya punya kemiripan yang kentara dengan banyak game lain. Begitu juga dengan puzzlenya yang, yaaah… lumayan gampang buat ditaklukkan.

Namun semua klise itu nggak lantas bikin saya bosan. Selalu ada alasan bagi saya untuk menyalakan PS4 dan memasuki lagi dunia kelam yang menyelimuti A Plague Tale.

Sebutlah alasannya karena ceritanya yang bikin nagih, atau voice acting karakter-karakternya yang begitu renyah terdengar di telinga, atau hubungan antara karakter utamanya yang merupakan dua bersaudara. Mereka, Amicia dan Hugo, memiliki sifat yang bertolak belakang. Dan kontradiksi itulah yang membuat interaksi antara mereka berdua jadi begitu indah untuk disimak.

20. Metal Gear Solid 5: The Phantom Pain

Konami

Metal Gear Solid 5 memang bukan game Metal Gear terbaik yang pernah ada. Di mata saya, Metal Gear Solid 3: Snake Eater masih nggak terkalahkan. Dan sebagai game yang digadang-gadang bakal melengkapi cerita Metal Gear (Solid), MGS 5 nggak bisa dibilang memenuhi tugasnya dengan komplet. Bahkan dari perspektif keseluruhan plot sejak Metal Gear pertama, game ini rasanya nggak perlu-perlu amat untuk diproduksi. Nilai minus lainnya terlihat juga di beberapa misi yang terkesan repetitif.

Semua kekurangan itu nyatanya nggak memengaruhi sisa gameplay yang nyaris sempurna. Memainkan Snake saat menyelinap memasuki markas musuh nggak pernah terasa lebih baik dari sebelumnya. Pun dengan fitur merekrut kru dan membangun base yang membuat saya seakan jadi Big Boss betulan.

Ini murni pendapat pribadi, tapi kehadiran Quiet bisa dimasukkan dalam faktor plus juga.

19. Monster Hunter: World

Monster Hunter World
Capcom

Dunia yang indah dalam Monster Hunter: World pasti akan membuat siapa pun langsung jatuh hati, meskipun ia sama sekali belum pernah memainkan seri Monster Hunter sebelumnya. Fitur kostumisasi karakter yang tak terbatasnya pun semakin memanjakan gamer. Bahkan nih, kamu bisa membuat karakter yang mirip tokoh terkenal atau tetangga kamu sekalipun.

Terlepas dari fitur unggulannya, gameplay Monter Hunter: World sebenarnya masih sama seperti sebelumnya. Kamu dituntut untuk menjalankan misi yang berhubungan dengan perburuan monster. Bakal lebih seru sebenarnya kalau kamu memainkan game ini bareng teman-teman.

18. Devil May Cry 5

Capcom

Tiga protagonis, dengan tiga gaya bertarung yang berbeda. Dan ketiga-tiganya menghadirkan sensasi combat yang keren abis. Selain Dante dan Nero yang kembali lagi dengan senyuman sinis mereka, DMC 5 menghadirkan satu karakter misterius yang mengandalkan gaya bertarung unik. Karakter favorit saya? Tentu saja si karakter baru V.

Mengandalkan kekonyolan di sisi cerita dan nama-nama senjatanya, serta penggambaran dunia yang mendewakan gaya, saya selalu kepikiran jangan-jangan apa yang selama ini terjadi di seri Devil May Cry itu nggak lebih dari khayalan seorang chuunibyou. Tapi terlepas dari itu, DMC 5 sukses besar dalam memberikan kita pengalaman action lebay, yang membuat adrenalin meledak-ledak sepanjang durasi permainan.

17. Hellblade: Senua’s Sacrifice

Ninja Theory

Saat awal memainkannya, Hellblade: Senua’s Sacrifice sempat bikin saya pusing. Bukan karena puzzlenya yang sederhana, tapi karena bisikan-bisikan imajinatif dari pikiran sang karakter utamanya, Senua. Jadi beginikah yang selalu dirasakan penderita skizofrenia? Saya nggak akan tahan jika setiap hari harus mengalami apa yang diderita Senua.

Senua memang digambarkan sebagai penderita gangguan mental yang sering melihat dan mendengar halusinasi. Dan lewat game ini, kamu akan diajak untuk mengikuti perkembangan Senua yang terus berjuang mempertahankan kewarasannya, seraya menyelematkan almarhum kekasihnya yang diseret ke neraka Helheim setelah kematiannya.

Mengusung genre action-adventure, daya tarik dari Hellblade justru nggak terletak di sisi action – meskipun combat-nya tetap asyik saat dimainkan – melainkan di keunikannya dalam memberikan pengalaman sinematik, hiburan, sekaligus edukasi. Usaha tim Ninja Theory dalam melakukan riset serius mengenai psikosis tentu harus mendapat apresiasi ekstra.

Per Juni 2018, Ninja Theory diakuisisi Microsoft. Jadi bila kamu masih akan setia sama konsol produksi Sony, kamu nggak bisa menikmati Senua’s Saga: Hellblade 2 yang bakal dirilis untuk Xbox Series X.

16. Yakuza 0

Sega

Sungguh dilematis buat memilih game Yakuza terbaik yang ada di PS4. Untuk urusan gameplay dan combat, Yakuza 6 dan Yakuza Kiwami 2 sedikit lebih unggul. Saya lebih memilih Yakuza 0 untuk masuk daftar ini karena beberapa pertimbangan: plotnya yang tersusun dengan sangat apik dan terus memancing rasa penasaran, ceritanya yang emosional, karakter-karakternya yang memorable, Kuze, dan kabaret.

Dan yang terpenting, Yakuza 0 merupakan game yang paling mantap untuk dijadikan gerbang pembuka untuk mengenalkan kamu pada seri Yakuza, jika sebelumnya kamu kurang familier sama kisah heroik Kazuma Kiryu.

Semua seri Yakuza sebenarnya bisa diwakili dengan penjelasan singkat. Ini adalah game yang mengharuskan kamu untuk menghajar musuh dengan brutal, sambil sesekali menikmati suguhan cutscene ala film action dan crime thriller yang melodramatis.

Ceritanya sendiri bisa ditamatkan dalam waktu sekitar 20-30 jam. Tapi kalau nggak waspada, ini game punya kemampuan untuk menyita waktu kamu hingga ratusan jam. Pasalnya, ada banyak hal yang bisa mendistraksi perhatian. Mulai dari ikutan balap Mini 4WD, mengurus bisnis real estate, merias penampilan gadis-gadis di klub kabaret, sampai belasan kali menyanyikan lagu Bakamitai di tempat karaoke.

15. The Outer Worlds

Take-Two Interactive

Habis Fallout, terbitlah The Outer Worlds. Iya, The Outer Worlds memang hampir mirip dengan seri Fallout. Hanya saja ia berujung menjadi karya yang jauh lebih yahud, terutama kalau kita membandingkannya dengan Fallout 76.

Karya racikan Obsidian (Fallout: New Vegas) ini memang nggak menyediakan dunia seluas game open world AAA zaman sekarang. Tapi “kekurangan” itu bisa ditutupi dengan kedalaman cerita dan karakter, keindahan grafik, dan penekanannya yang sangat kuat pada kebebasan. Kamu pasti bakalan sulit menahan hasrat untuk mengeksplorasi dunia The Outer Worlds bareng partner-partner kamu. Jangankan proses eksplorasi, berkat fitur pilihan dialognya, kamu mungkin bakalan pengin terus-terusan ngajak ngobrol NPC yang tersebar di segala penjuru.

Di samping itu, kamu juga bebas membentuk karakteristik dari karakter yang kamu kendalikan. Saya sendiri lebih memilih untuk jadi karakter tengil yang suka ngomong seenak udel. Hey, jadi karakter menyebalkan itu punya keasyikan tersendiri lho.

14. Resident Evil 2 Remake

Capcom

Game yang sepenuhnya berhasil memuaskan pencinta horor, terutama pemuja seri Resident Evil. Lewat Resident Evil 2 Remake pula saya merasa Capcom benar-benar mendengar keinginan para fan setia RE.

Resident Evil 2 Remake adalah penyempurnaan dari game klasik RE 2. Format fixed camera dihilangkan dan diganti dengan kamera over the shoulder yang lebih modern, sehingga lebih memudahkan gamer pendatang baru untuk beradaptasi. Zombie dan monster seperti Licker pun lebih sulit untuk dibunuh. Kamu harus menghancurkan organ yang benar-benar vital. Benar-benar menuntut konsentrasi penuh!

Selamat datang kembali di Raccoon City! Apa kamu siap membawa Leon Kennedy dan Claire Redfield keluar dari kota penuh zombie dan monster itu? Apa kamu siap dikejar-kejar Mr. X?

13. Shadow of the Colossus

Sony Interactive Entertainment

Shadow of the Colossus merupakan remake dari game berjudul sama yang dirilis di konsol PS2. Tapi di versi PS4, grafiknya jelas jauh lebih mumpuni. Jalan cerita dan ending yang menyayat hati yang diperlengkap dengan grafik ciamik makin memperkuat alasan kenapa kamu harus memainkan (lagi) Shadow of the Colossus.

Wander, begitulah nama dari protagonis game ini, ingin menghidupkan kembali wanita yang ia cintai. Syaratnya ia harus mengalahkan 16 raksasa yang tersebar di berbagai tempat.

Saat bertarung dengan para raksasa tersebut, kamu akan dibekali pedang kuno yang dapat mengungkap kelemahan musuh. Terlihat mudah? Tunggu dulu. Para raksasa yang harus kamu kalahkan itu sangat agresif setelah diserang. Mereka bisa segera menginjak kamu dengan mudah, bahkan sebelum kamu siap memanjat tubuh besar mereka.

12. Uncharted 4: A Thief’s End

Sony Interactive Entertainment

Nathan Drake sudah tobat menjadi pemburu harta di seri keempat Uncharted ini. Tapi hasrat bertualangnya kembali lagi setelah kakaknya datang meminta pertolongan untuk memburu harta bajak laut Henry Avery.

Jika kamu pernah memainkan tiga seri sebelumnya, terutama sekuel keduanya yang bombastis, kamu pasti tahu Uncharted merupakan game action-adventure yang dipenuhi momen pembangkit adrenalin. Gameplay-nya seru, dan setiap cutscene dibuat dengan begitu sinematik, seakan-akan kita lagi nonton film. Yaah, walaupun jalan ceritanya nggak sedalam game lain garapan Naughty Dog semacam The Last of Us.

Tapi yang paling bikin saya terpukau dengan Uncharted 4 adalah grafiknya yang benar-benar realistis. Bahkan lumpur becek yang terkena putaran roda mobil terlihat nyata banget.

Oh ya, jangan lupa juga buat memainkan spin-off Uncharted: The Lost Legacy yang nggak kalah kerennya dari Uncharted 4.

11. Persona 5

Atlus

Memainkan karakter remaja yang gemar memakai kostum aneh kayak karakter anime itu ternyata menyenangkan. Persona 5 jadi buktinya.

Dalam game bergenre JRPG turn-based ini, kamu akan mengontrol protagonis anak remaja. Dan selayaknya anak remaja kebanyakan, kamu harus bersekolah di pagi sampai siang hari, lalu melawan monster setelah pulang sekolah. Dua hal itulah yang menjadikan Persona 5 sebagai game yang adiktif buat dimainkan.

Tugas utama kamu sebenarnya adalah mengubah kepribadian karakter-karakter jahat di Tokyo dengan mencuri hati mereka. Tapi saat di siang hari, kamu harus berlaku sebagai remaja biasa: bersekolah dan bergaul dengan teman-teman sekaligus meningkatkan hubungan dengan mereka. Waktu 100 jam lebih pun nggak akan terasa saat kamu menamatkan Persona 5.

10. Grand Theft Auto 5

Rockstar Games

Ini game udah pernah dirilis di PS3 sebenarnya. Mungkin kamu juga pernah mencobanya di platform selain PS4 (baca: PC). Jadi, buat apa kamu memainkan lagi GTA V di PS4?

Itu karena Los Santos selalu memberikan pengalaman baru, meskipun kamu udah berulang kali menamatkan game ini. Misi-misi utamanya keren, dan ia pun memberi kamu kebebasan mutlak untuk melakukan berbagai macam kegilaan. Kamu mau memenuhi fantasi sebagai psikopat sinting yang mengamuk di tengah kota? Silakan. Atau kamu mau berlaku seperti warga taat aturan yang selalu berhenti saat lampu merah menyala? Bisa.

Rockstar juga memberikan update yang nggak bisa kamu temukan di versi PS3. Grafiknya juga sedikit dipercantik. Bila kamu belum pernah mencicipi GTA V, berarti ini saatnya bagi kamu untuk mengurung diri barang sejenak, lalu nikmati kebebasan yang bisa kamu dapat di GTA V.

9. Bloodborne

Bloodborne
Sony Computer Entertainment

Untuk para pencinta tantangan super sulit seperti yang ada di seri Souls, Bloodborne adalah solusi paling mujarab.

Fokus ceritanya mengarah pada karakter yang ingin mencari obat di kota fiksi Yharnam. Tapi bukannya obat yang didapat, melainkan malapetaka. Kota yang jadi tujuan karakter kamu udah porak poranda oleh wabah. Misi pencarian obat pun berganti jadi perjuangan bertahan hidup dari warga kota yang berubah menjadi makhluk mengerikan.

Meski membawa gameplay yang hampir sama dengan Dark Souls, gaya bertarung yang dibawa game ini sangatlah berbeda. Kamu harus lebih cekatan dalam menghindari serangan. Dan jangan berharap karakter kamu bakal dilengkapi dengan pedang sakti mandraguna atau semacamnya.

8. Nier: Automata

Square Enix

Sebagian gamer cowok mungkin tergoda memainkan Nier: Automata karena kemolekan 2B. Tapi saya punya alasan berbeda. Bukan karena sok suci, melainkan karena faktor Yoko Taro, sosok eksentrik yang menyutradarai game super mantap ini. Dan benar saja, begitu game menyentuh bagian ending, hati saya merasa hampa banget, seolah ada lubang menganga yang muncul setelah saya selesai menamatkannya.

Nier: Automata membawa cerita yang mengandung pertanyaan-pertanyaan seputar moralitas, kemanusiaan, kematian, dan filosofi. Karena topik yang seperti itu, kita seperti dirangsang untuk memikirkan dan menginterpretasi pesan yang dibawakan narasinya. Sungguh, Nier: Automata lebih dari sekadar video game. Dalam batas tertentu, ia bahkan bisa dikategorikan sebagai karya seni atau sastra. Lebih tepatnya, karya seni yang hanya bisa dibawakan dengan efektif lewat medium video game.

Dan itu baru dari segi cerita. Game ini juga punya keunggulan dari setting semi open-world yang  luas dan kosong. Tapi kamu nggak akan dibuat bosan menjelajah, karena bakal ada soundtrack merdu yang mengiringi setiap langkah kamu. Sebagai karya yang digarap oleh Platinum Games, pengembang yang dikenal jago menggarap game action, kamu pun akan tersenyum puas setiap kali menyelesaikan pertarungan dengan musuh.

7. The Witcher 3

CD Projekt

Bersiaplah untuk melihat adegan hot yang melibatkan unicorn. Yup, unicorn!

Oke, kita kesampingkan dulu guyonan tentang unicorn, karena inti dari The Witcher 3 bukanlah tentang itu. Ini adalah game dengan teknik storytelling yang fantastis, meskipun alur ceritanya panjang dan kompleks. Ini adalah game yang menuntut kamu buat mengambil keputusan dengan cepat saat bertarung. Ini adalah game yang, meskipun masih bisa diperdebatkan, sangat layak ditahbiskan sebagai game RPG terbaik sepanjang masa.

Hebatnya lagi, narasi menarik dari game ini nggak hanya terdapat di misi atau cerita utamanya, tapi juga bisa kamu temukan di side quest yang jumlahnya bejibun.

Satu lagi, dalam The Witcher 3, kamu akan memainkan sang karakter ikonik Geralt of Rivia. Tapi bagi saya pribadi, momen terbaik dari game ini muncul saat kamu berkesempatan mengendalikan Ciri, yang notabenenya merupakan anak angkat dari Geralt.

Ngomong-ngomong soal Ciri, saya punya sedikit tips buat kamu yang belum pernah memainkan The Witcher 3. Meskipun kamu mengontrol Geralt sepanjang kira-kira 90 persen durasi permainan, karakter utama dari game ini bukan Geralt, tapi Ciri. Fokus dari The Witcher 3 adalah kisah tentang Ciri. Perhatikan apa yang diinginkan Ciri, bukan apa yang kamu inginkan.

6. Sekiro: Shadows Die Twice

FromSoftware

Game yang penuh tantangan dan sangat menguras fokus, terutama saat Wolf harus melawan si bedebah Genichiro! Seluruh jari tangan dan kaki nggak cukup buat menghitung berapa kali saya harus mati di tangan si bedebah itu.

Terlahir dari tangan dingin FromSoftware, pengembang yang juga bertanggung jawab atas lahirnya Bloodborne dan seri Souls, Sekiro: Shadows Die Twice menawarkan tingkat kesulitan yang nggak kalah ekstrem dari dua game legendaris tersebut. Pasti butuh waktu bagi kamu untuk terbiasa dengan teknik dan combat dari game yang berlatar di Jepang era Sengoku ini, khususnya teknik parry. Tapi setiap kali berhasil mengalahkan musuh yang kuat, saya berani jamin kamu bakal mendapat kepuasan yang tiada tara.

Saran saya kalau kamu mau memainkan Sekiro: latih refleks kamu, jangan panik saat berhadapan dengan bos, jangan gampang nyerah. Walaupun tingkat kesulitannya mungkin bisa bikin kamu kesal bukan kepalang, Sekiro memang pantas menyabet penghargaan Game of the Year di ajang TGA 2019.

5. Horizon Zero Dawn

Sony Interactive Entertainment

Horizon Zero Dawn, salah satu game dengan grafik yang paling bagus sepanjang masa.

Berlatar dunia pada tahun 3017, Horizon Zero Dawn mengajak kamu untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di tengah maraknya monster bertubuh besi yang memangsa manusia. Mungkin kamu bakal merasa setting game ini terlihat seperti di zaman purba, tapi anehnya kenapa ada teknologi yang super canggih? Justru itulah misteri terbesar yang tersimpan dalam game ini.

Dari segi gameplay, Horizon: Zero Dawn memakai mekanisme yang sama dengan game seperti God of War atau Far Cry. Upgrade senjata dan perlengkapan lainnya harus sering kamu lakukan jika pengin bertahan hidup.

4. Spider-Man

Spider-Man
Sony Interactive Entertainment

Akhirnya kita bisa merasakan juga sensasi bermain game Spider-Man yang berkualitas. Jangankan sesi pertarungannya, berayun-ayun mengitari New York dengan jaring laba-laba saja sudah terasa begitu mengasyikkan.

Pada dasarnya formula gameplay yang dipakai hampir sama dengan game Spider-Man sebelumnya, tapi banyak pembaruan keren yang bisa kamu rasakan. Seperti saat berayun di tengah kota, kamu nggak hanya bisa merayap, tapi juga berlarian di dinding gedung. Serangan kombinasi Spidey pun dibuat lebih efisien.

Oh ya, kali ini juga Spidey memiliki senjata tambahan berupa jaring listrik dan drone laba-laba. Pilihan kostumnya pun sangat melimpah, sampai-sampai tangan kamu bisa gatal karena pengin ganti kostum Spidey setiap 15 menit sekali.

3. The Last of Us

Sony Computer Entertainment

Dulu saya sempat berpikir game ini akan membosankan karena embel-embel zombie dan dunia post-apocalypse. Tapi di luar dugaan, The Last of Us memberikan pengalaman bermain game yang sangat menguras emosi. Wabah zombie hanya tampilan luarnya doang, isu utama dalam game ini adalah ego manusia yang tinggi serta empati yang semakin pudar menjadi. Sungguh suatu ironi di balik sepinya dunia yang telah porak poranda oleh wabah penyakit.

Nggak banyak yang perubahan di The Last of Us versi remastered jika dibandingkan dengan versi PS3-nya. Tapi, jika kamu pengin melihat grafik yang lebih mendetail dan menawan, atau sekadar kangen sama petualangan Joel dan Ellie, The Last of Us harus ada di koleksi kamu.

Karena kalau kamu menanyakan pendapat saya, The Last of Us termasuk game yang layak buat dimainkan ulang minimal satu tahun sekali.

2. Red Dead Redemption 2

Rockstar Games

Detail, detail, dan detail. Red Dead Redemption 2 membuat saya merasa nggak lagi memainkan game, melainkan seperti sedang merasakan kehidupan nyata sebagai anggota geng Van Der Linde. Ditambah dengan fitur open world dan grafik memukau, saya menemukan banyak hal mengagumkan yang sulit ditemukan dalam game lain.

Kombinasi antara jalan cerita yang seru dan gameplay yang mantap membuat Red Dead Redemption 2 harus dikategorikan sebagai game yang sempurna. Arthur Morgan yang berperan sebagai protagonis pun merupakan lovable character. Meskipun, kisah perjalanannya masih kalah emosional jika dibandingkan John Marston di Red Dead Redemption pertama.

1. God of War

God of War
Sony Interactive Entertainment

Banyak orang menyindir God of War versi 2018 ini dengan sebutan Dad of War. Itu cukup beralasan, karena kali ini Kratos berperan sebagai ayah dari Atreus, atau yang punya nama lain…

Aaah, simpan aja itu sebagai kejutan yang bisa kamu temukan di bagian ending.

Anyway, lupakan dulu tentang guyonan Dad of War. Dalam game ini kamu akan menemukan perpaduan cerita dan gameplay yang amat memuaskan. Keputusan pengembang Santa Monica untuk memindahkan setting dari mitologi Yunani ke Nordik pun terbukti jitu. God of War terlihat begitu fresh tanpa harus melupakan akarnya (pertarungan brutal penuh pertumpahan darah).

Perhatikan betul bagaimana hubungan Kratos dan Atreus sepanjang game, dan kamu bakal tahu kenapa God of War pantas mendapat anugerah Game of the Year tahun 2018.

Itulah game PS4 terbaik sepanjang masa versi Selipan. Apa game favorit kamu masuk dalam daftar? Atau kamu punya game lain yang pantas masuk daftar?

Komentar:

Komentar