10 Momen Saat Video Game Berhasil Mengaduk-aduk Emosi Para Gamer

:

Jika kamu sering membaca konten-konten di Selipan, kamu pasti tahu kalau kami merasa di zaman sekarang, cerita yang bagus itu nggak cuma berasal dari novel atau film. Video game pun bisa menghasilkan jalan cerita bak roller coaster yang mengaduk-aduk emosi kita tanpa ampun. Bahkan nggak jarang lho seseorang sampai menangis karena emosinya terpengaruh oleh hubungan antar karakter yang ada di game.

Sampai sebegitunya ya. Tapi memang begitu kenyataannya: beberapa game yang mengandalkan cerita sebagai kekuatan utamanya terkadang sanggup membuat para gamer terenyuh, larut dalam emosi. 10 momen paling emosional dalam video game ini bisa kasih kamu buktinya.

Spoiler alert! Tulisan ini mengandung spoiler (ya iyalah). Jadi bila kamu belum memainkan game yang dibahas, saya sarankan kamu untuk memainkannya terlebih dulu.

1. Akhir perjalanan John Marston – Red Dead Redemption

Saat seseorang memutuskan buat main Red Dead Redemption, dia harus siap untuk meluangkan waktu lebih dari 40 jam. Saya sendiri menghabiskan sekitar 110 jam buat menamatkan game ini. Dan waktu sebanyak itu tentu bikin siapa pun yang memainkan Red Dead bakal terikat secara emosional dengan karakter utamanya, John Marston.

Tapi John akhirnya mati di tangan detektif yang selama ini menyandera keluarganya. Ya, setelah sekian lama berpetualang bersama John Marston, kita harus menyaksikannya mati bersimbah darah setelah diberondong belasan peluru. Sungguh akhir yang tragis untuk karakter yang begitu mudah untuk dicintai. Dan hati kamu bakal terasa semakin sesak saat melihat anak dan istri John menemukan mayatnya yang mengenaskan.

Kematian Arthur Morgan di Red Dead Redemption 2 sebenarnya nggak kalah epik. Tapi efek emosionalnya nggak begitu besar dibanding kematian John. Mungkin itu karena saya udah tahu kalau Arthur bakalan mati.


2. Mengubur sang kakak – Brothers: A Tale of Two Sons

Dalam game ini, kita harus mengendalikan dua karakter sekaligus. Kita pun bakal semakin peduli dengan dua karakter tersebut karena mereka adalah dua bersaudara yang harus mencari obat buat ayah mereka yang tengah sakit.

Tapi perjalanan mereka nggak semulus seperti yang dibayangkan. Saat mereka udah menemukan obatnya, sang kakak harus kehilangan nyawanya tepat di depan mata adiknya. Dan yang lebih memilukannya lagi, kita dipaksa untuk mengontrol si adik saat dia mengubur kakaknya.

Baru kali ini saya merasa sedih luar biasa karena diharuskan memencet tombol kontroler.

3. Bad ending The Witcher 3

Geralt of Rivia duduk termenung di rumah kosong sambil mencengkram medali milik anak angkatnya yang telah tewas, Ciri. Seraya Geralt diam membisu, monster-monster yang nggak terhitung jumlahnya mulai mengerubunginya. Layar pun berganti menjadi hitam, untuk kemudian disusul oleh credit yang bergulir, meninggalkan nasib Geralt sebagai satu pertanyaan menggantung yang belum terjawab.

Dasarnya aja udah bad ending, tapi ketidakberdayaan dan rasa frustrasi Geralt akan kematian Ciri seolah meninggalkan lubang menganga di hati saya. Sepanjang memainkan game ini, saya percaya diri banget bakal dapat good ending. Sayang, kenyataan berkata lain.

“Ini adalah cerita tentangku.” Ciri pernah berkata seperti itu pada Geralt. Tapi saya terlambat menyadari kalau Ciri adalah karakter utama yang lebih penting dari Geralt. Dan itulah yang paling menyesakkan hati saya.

4. Tatkala Joel berbohong pada Ellie – The Last of Us

“Swear to me… Swear to me that everything you said about the fireflies is true.”

“I swear.”

Apakah Ellie tahu kalau Joel berbohong? Mungkin ya, mungkin nggak. Pertanyaan itu mungkin bakal terjawab di The Last of Us Part II. Tapi kita nggak bisa memungkiri kalau adegan yang simpel itu terasa sempurna sebagai ending dari game yang juga nyaris sempurna.

Memang, Joel terpaksa berbohong karena dia nggak mau kehilangan “anaknya” lagi. Tapi melihat ekspresi Ellie yang disusul dengan bunyi petikan merdu gitar akustik, perasaan saya jadi dibuat nggak enak banget.

Dan jangan lupakan juga adegan kematian Sarah di awal durasi game. Adegan itu pun nggak kalah menyesakkannya dari adegan yang ada di ending ini.

5. Ibu kambing harus mati – Undertale

Toby Fox

Sosok ibu yang kepalanya kayak kambing di Undertale itu sebenarnya baik banget. Dia cuma pengin melindungi sang karakter utama. Tapi keinginannya untuk melindungi itu justru memaksa kita untuk melawannya (dan membunuhnya).

Terlepas dari wujudnya yang mirip kambing, saya nggak bisa untuk nggak bersimpati pada dia. Akhirnya saya pun dibuat bertanya-tanya, “Kenapa dia harus mati!? Ibu Kambing! Tidaaaaak…!?”

6. Detik-detik penentuan nasib Isaac Clarke – Dead Space 2

Dari segi plot dan karakterisasi, menurut saya Dead Space 2 lebih kuat dari game pendahulunya. Dan saya pun nggak mau Isaac Clarke menemui nasib sial setelah semua usahanya yang seringkali hampir berujung pada maut.

Jadi saat saya melihat ending di mana Isaac terduduk pasrah menerima takdirnya di tengah langit-langit yang mulai runtuh – ditambah lagi credit mulai bergulir dan musik penutup mulai terdengar, pertanda kalau game akan memasuki penghujung cerita – saya merasa ini terlalu tragis dan menyedihkan.

Untungnya kekhawatiran saya nggak terjadi. Meskipun, tetap saja, detik-detik saat Isaac pasrah menerima nasibnya terasa begitu melankolis.

7. Kara dan Alice kabur dari Todd – Detroit: Become Human

Jujur, saya nggak suka sama karakter Todd. Wajar kalau detak jantung saya berdegup kencang saat Kara membawa Alice keluar dari rumah Todd. Situasi makin menyeret emosi karena adegan menegangkan itu diiringi juga dengan musik yang mengharu biru, membuat saya berpikir mereka memang udah seharusnya kabur dari rumah terkutuk itu.

8. Saat papa Nier menghancurkan harapan terakhir umat manusia – Nier: Gestalt

Square Enix

Nier: Gestalt membawa kita pada dunia yang penuh keputusasaan. Tapi saya nggak pernah mengira kalau karakter utamanya bakal jadi musuh utama dari umat manusia yang berada di ambang kepunahan. Jika mau diringkas secara simpel, kita memainkan “karakter antagonis” yang membantai sisa manusia di muka bumi “hanya karena” dia pengin menyelamatkan putri semata wayangnya.

Bagaimana perasaan kamu kalau ada di posisi si karakter utama? Buat saya sendiri, ini merupakan salah satu momen yang paling ironis sekaligus memilukan dalam video game.

9. Ketika kamu tersadar kalau Wander ternyata seorang pembantai – Shadow of the Colossus

Sony Computer Entertainment

Di awal permainan, kita tahu kalau Wander si karakter utama pengin membangkitkan lagi kekasihnya yang udah mati. Untuk alasan itu juga Wander harus membasmi 16 raksasa yang disebut Colossi.

Tapi seiring berjalannya waktu, kamu pun tersadar kalau para Colossi itu sebenarnya bukan makhluk yang berbahaya. Mereka bahkan nggak akan menyerang kalau nggak diserang terlebih dahulu. Mengetahui semua itu, Wander tetap membantai semua Colossi demi satu tujuan: menghidupkan lagi kekasihnya.

16 makhluk tanpa dosa dibasmi karena sang karakter utama ingin membangkitkan satu orang. Apakah tindakannya itu bisa dibenarkan? Entahlah, karena pertanyaannya sendiri berada di wilayah abu-abu. Tapi justru itu yang bikin game ini sanggup menyita emosi para pemainnya.

10. Perpisahan Lee dan Clementine – The Walking Dead

Siapa yang mengira Lee bakal digigit zombie? Ketidakterdugaan itu lantas berubah jadi ketegangan dan harap-harap cemas saat game mencapai detik-detik akhir. Lebih tepatnya, momen saat Lee ambruk dan sekarat.

“Setelah semua yang dilewati, Lee akhirnya mati!? Come on, dude! Jangan kalah sama gigitan zombie doang,” bisik saya saat melihat Lee ambruk, sekitar empat tahun yang lalu kalau nggak salah. Tapi apa daya, dalam The Walking Dead gigitan zombie memang mematikan.

Dan momen tak terelakkan pun akhirnya tiba. Dengan mata berkaca-kaca, Clementine menembak kepala Lee (atau meninggalkannya berubah jadi zombie) setelah sebelumnya mendapat wejangan terakhir dari ayah angkatnya itu.

Bukan cuma Clementine sih yang matanya berkaca-kaca, mata saya pun berkaca-kaca saat melihat adegan kematian Lee.

Apa emosi kamu juga terasa diaduk-aduk saat melihat 10 momen tersebut? Jika kamu punya rekomendasi game lain yang punya plot sebagus 10 game di atas, kasih tahu saya dong!

Dhika Sacawisastra :