Kenapa Banyak Game Zaman Sekarang yang Durasinya Lama Banget? Tentu Ada Alasannya

Get a life, Bro! Get a life...

Saya masih ingat game petualangan yang pertama kali saya mainkan. Waktu itu umur saya masih 7 tahun, ketika pertama kali memainkan Crash Bandicoot. Seingat saya, nggak butuh waktu lama bagi saya untuk menamatkannya. Saat Crash Bandicoot mendapat versi remaster di PS4 pun saya cuma butuh waktu sekitar 8-10 jam, dan game itu tamat.

Yup, game jadul itu rata-rata simpel banget. Hanya dengan beberapa jam saja, kita bisa menamatkan satu game lalu beralih ke game lainnya.

Sedangkan sekarang?

Video game terus berevolusi. Dari yang awalnya makan waktu sekitar 10 jam, kini kita bisa menatap layar sampai lebih dari 100 jam hanya untuk menamatkan satu game. Karena itu juga saya suka menemukan orang mengeluh “Game zaman sekarang banyak yang durasinya terlalu panjang! Kenapa? Padahal nggak perlu sepanjang itu deh kayaknya.”

“Durasi game bakal lebih lama kalau kamu suka gonta-ganti celana saya tiap 10 menit sekali.”/via commons.wikimedia.org

Saya nggak bisa menyalahkan mereka. Toh teman-teman saya yang dulu kecanduan main game sekarang udah pada sibuk dengan urusan kerjaan dan rumah tangga. Apa mereka masih sempat main game semacam Assasin’s Creed Odyssey atau Red Dead Redemption 2? Sempat-sempat saja. Konsekuensinya, waktu mereka untuk anak-bini mungkin jadi berkurang.

Itu makanya mereka suka menjadikan game mobile jadi bahan pelarian. Mungkin kamu juga sama dengan teman-teman saya?

“Mama, Papa, kalian lebih suka ganti celananya Geralt daripada ganti popok aku?”/via pexels.com

Tapi begini, saya termasuk orang yang menganggap game mobile itu nggak akan bisa kasih kita pengalaman bermain video game semaksimal game konsol atau PC. Seberapa pun kerennya game mobile, ia nggak akan bisa menyaingi pengalaman yang bisa kamu dapat saat memainkan God of War di PS4.

Kritik yang biasanya ditujukan untuk game berdurasi lama

Game semacam Uncharted punya fungsi untuk mengajak kita bertualang. Dan ia nggak berbasa-basi dalam melakukannya. Kita nggak perlu merasa penasaran dengan tumpukan quest yang bisa makan waktu sampai 20 jam buat diselesaikan.

“Tunggu, jangan bunuh aku! Aku punya quest untuk kau. Kira-kira empat jam juga selesai kok!”/via gamepressure.com

Intinya, tanpa harus mengorbankan banyak waktu, kita bisa merasakan sensasi berpetualang yang asyik lewat Uncharted.

Dan pengalaman berpetualang dengan waktu singkat itulah yang “direnggut” oleh game seperti Persona 5, The Witcher 3, Fallout 4, atau Monster Hunter 4. Kamu nggak akan bisa memahami keseluruhan cerita game tersebut jika enggan menyisihkan waktu lebih dari 100 jam.

Bayangkan, 100 jam lebih untuk menamatkan game!? Berapa banyak aktivitas hiburan lain yang bisa kamu lakukan dalam waktu 100 jam? Berapa banyak film yang bisa kamu tonton selama itu?

Pembelaan terhadap game berdurasi lama

Saya pernah membaca artikel yang menyebut durasi Persona 5 terlalu lama. Itu makanya, si penulis artikel nggak keberatan dapat ending di mana karakter utamanya mati setelah diinterogasi Sae Niijima. Ia pengin cepat-cepat menamatkan game itu.

Tapi bagi saya, Atlus (pengembang Persona 5) pintar banget bikin game yang menyeret kita untuk peduli pada perkembangan cerita dan karakternya. Semenjak arc pertama saat kita diharuskan mencuri hati Suguru Kamoshida si guru bejat, perhatian saya udah keburu diseret untuk terus mengikuti perkembangan ceritanya, mengenali karakter-karakter utamanya, dan mengeksplorasi dunianya Persona 5.

Dan merayu perempuan-perempuan yang umurnya lebih tua/via gamereactor.es

Ketika game menyentuh akhir durasi dan saya mendapat true ending, saya merasa puas banget berhasil menamatkan Persona 5. Saya nggak merasa waktu saya terbuang percuma. Ibarat kata, saya seakan baru saja selesai baca novel atau nonton film yang keren, hanya saja karakter utamanya adalah saya sendiri. Saya bisa saja mendapat bentuk hiburan lain waktu itu, tapi saya lebih memilih untuk menyelami Persona 5. Dan saya bisa mendapat kepuasan dan kesenangan saat memainkannya, sama seperti orang yang baru nonton beberapa season dari Game of Thrones.

Yup, jika dieksekusi dengan baik, game dengan durasi lama itu punya keunggulan untuk bikin pemainnya benar-benar terlibat dengan kedalaman dunia fiktif yang disajikannya. Game semacam itu nggak akan bisa menyentuh emosi para gamer kalau durasinya jauh lebih dipersingkat.

Saya ambil contoh lain dari God of War versi 2018, game berdurasi 25-35 jam yang sering dianggap terlalu lama oleh sebagian orang. Tapi God of War adalah game yang memfokuskan dirinya pada hubungan antara ayah dan anak. Kratos yang awalnya acuh tak acuh pada Atreus dan menganggapnya nggak lebih dari alat penerjemah, secara berangsur-angsur bertransformasi jadi sosok seorang ayah bagi Atreus. Perkembangan dan dalamnya hubungan mereka itulah yang jadi salah satu faktor kenapa game ini mendapat banyak pujian, bahkan sampai menyabet penghargaan Game of the Year.

Lalu bagaimana jika durasi God of War lebih dipersingkat, katakanlah 15 jam lebih singkat? Saya yakin seyakin-yakinnya penggambaran hubungan antara Kratos dan Atreus bakal jadi hambar, garing, dan membosankan. Bahkan bukan hal yang nggak mungkin jalan cerita dari God of War bakal jadi sasaran kritik tajam karena dianggap kurang dalam.

“Atreus, Nak… cepat! Kita cuma punya waktu dua jam lagi. Kalau nggak durasinya kelamaan!”/via screenrant.com

Apa ini semua ada hubungannya dengan kebiasaan kita sehari-hari?

Well, memang benar, nggak semua orang itu punya waktu untuk bermain game yang durasinya lama. Kita punya pekerjaan yang harus dilesaikan, kita harus sekolah, dan kita juga punya kehidupan sosial.

Tapi jika seseorang suka dengan hiburan yang berbentuk narasi atau penceritaan berkualitas wahid, video game zaman sekarang sanggup memberikan itu. Kualitas ceritanya terkadang nggak kalah dari karya sastra semacam novel atau film. Untuk menamatkan game berdurasi lama, yang harus kita lakukan hanyalah bersabar dan coba memainkannya di kala waktu luang. Dan memainkan game pun nggak akan sampai mengganggu kehidupan kita, biarpun hasilnya game tersebut baru selesai berbulan-bulan kemudian.

Namun, justru mungkin di situlah letak permasalahannya: kesabaran.

Dewasa ini, kita hidup pada masa di mana meme lebih menarik perhatian orang dibanding tulisan yang membahas suatu permasalahan secara mendalam. Dengan melihat meme, orang hanya butuh beberapa detik. Sedangkan membaca tulisan in-depth, orang butuh beberapa menit. Dan coba tebak, nggak semua orang punya waktu untuk membaca tulisan yang panjang.

Mungkin, ini cuma hipotesis saya, kebiasaan kita dalam menikmati proses yang simpel itu terjadi juga dalam dunia video game, di mana orang-orang yang dulu mengeluh suatu game durasinya terlalu singkat, sekarang berbalik mengeluh:

Game zaman sekarang durasinya terlalu lama!

“Lu tahu? Gue sampai nggak mandi berhari-hari buat interogasi elu.”/via youtube.com

Bahkan… barangkali ada juga sebagian dari kamu yang merasa artikel opini ini terlalu panjang. Sebelum kamu membaca paragraf penutup ini, kamu udah keburu menutup artikel, lalu mengalihkan perhatian pada hal-hal lain.

Tapi bagi kamu yang rela membaca artikel ini sampai tuntas, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Waktu kita memang terbatas, dan kamu mau meluangkan waktu untuk membaca. Saya yakin, masih banyak orang di dunia ini yang seperti kamu, mereka yang suka membaca dan mengapresiasi tulisan-tulisan panjang.

Saya sendiri nggak punya waktu untuk memainkan semua game yang ada di pasaran. Lagipula, nggak semua game itu cocok sama selera saya. Tapi saya tetap berterima kasih pada developer dan publisher game yang memberi kita banyak alternatif pengisi waktu luang.  

7 Shares

Komentar:

Komentar