Ideafest 2018: Bagaimana Ideatalks Menyulap Ajang Berbagi Ide dan Inspirasi Jadi Satu Pengalaman Berharga

Inspirasi apa yang kamu dapat?

:
Suasana main lobby Jakarta Convention Center (JCC) yang dipadati pengunjung Ideafest 2018/Selipan/Raja Lubis

Siapa yang ikut hadir di acara Ideafest 2018 yang baru saja digelar tanggal 26 – 27 Oktober kemarin? Ideafest 2018 memang telah usai, tapi bukan berarti pengalaman yang didapat dari sana lantas dilupakan begitu saja, bukan? Nih, buat kamu yang nggak sempat hadir, salah satu pengalaman berharga yang bisa kita dapatkan di Ideafest 2018 bersumber dari ajang Ideatalks.

Ideatalks ini sendiri semacam workshop atau seminar yang menghadirkan lebih dari 150 pembicara yang dibagi ke dalam 10 kelas. Masing-masing kelas terdiri dari 7-9 sesi yang dilaksanakan secara paralel mulai dari pukul 10 pagi hingga 10 malam.

Lalu, apa pengalaman yang bisa didapat dari sana?

Pembicara yang menarik, kontennya pun memang bermanfaat banget

Ketika kita sedang memerlukan sebuah ide atau inspirasi, maka ide tersebut harus kita dapatkan. Dan di sinilah Idetalks hadir sebagai sarana berbagi ide dari pelaku industri kreatif yang lebih dulu dikenal masyarakat luas. Otomatis, itu juga yang jadi salah satu alasan pengunjung hadir ke Ideatalks, nggak lain untuk mendapat ilmu dari pembicara sesuai dengan minat dan aktivitas yang sedang ditekuni.

Rina misalnya, pelaku kuliner yang sedang mengembangkan bisnis kue, mengaku tertarik dengan kelas Scalling Up Your Cullinary Business yang menghadirkan para praktisi kuliner dari brand yang sudah terkenal. Sebut saja Fishstreat, Chicken Crush, Calais Tea, Dore by Letao, Bebek BKB, Tahu Jeletot Taisi, hingga Whatsup Cafe.

Pengunjung melihat rundown untuk menentukan kelas yang ingin diikutinya./Selipan/Raja Lubis

Senada dengan Rina, hal yang sama diungkap Arman, seorang praktisi film. Ia datang ke Ideafest khusus untuk memburu kelas-kelas yang berisi tentang film. Meski ia mengaku sempat bingung karena ada dua kelas menarik yang dilaksanakan berbarengan, yakni The Foxtrot Six Story: Behind the Most Anticipated Motion Picture dan Placing Your Bet On Indonesian’s Film, walhasil ia harus memilih salah satu di antaranya.

Gimana kamu yang hadir kemarin, ikut ke kelas apa saja?


Pengunjung sudah siap nih mendapat inspirasi dari pembicara di kelas favoritnya./Selipan/Raja Lubis

Apa saja inspirasi yang dibagikan?

Kelas pertama yang saya sendiri ikuti adalah Travelling, The Spending That Makes You Richer, yang diisi oleh aktor Christian Sugiono. Lho kok Christian Sugiono ngisi acara travelling? Sebentar dulu… mungkin sebagian dari kita mengenalnya sebagai pemain film dan sinetron. Atau mungkin kamu hanya mengenalnya sebagai suami dari Titi Kamal?

Tapi kenyataan tak sesederhana itu. Selain sebagai Founder of MBDC Media, Christian Sugiono juga merupakan produser acara Jalan-Jalan Men! Pernah dengar? Itu merupakan acara travelling yang hanya tayang di Youtube. Coba deh cari langsung di Youtube atau lihat video di bawah ini.

Di kelas Travelling, The Spending That Makes You Richer, Christian Sugiono berbagi pengalaman bagaimana travelling itu selain menjadi hobi, juga bisa menjadikan kita lebih kaya. Jalan-jalan dan jadi kaya, enak ‘kan? Namun menurut Christian, kaya di sini artinya bukan soal uang semata, melainkan juga pengetahuan dan wawasan yang nggak didapatkan di bangku sekolah. Ketika memproduksi acara Jalan-Jalan Men!, ia hanya ingin berbagi kepada dunia betapa indahnya alam Indonesia dan berharap acaranya bisa jadi inspirasi bagi penontonnya.

Tapi tak disangka, acara yang dibawakan Jebraw dan Naya Anindita ini menjadi terkenal salah satunya berkat gaya pembawaan mereka yang khas. Untuk menggambarkan keindahan Indonesia, mereka selalu menggunakan kata ‘pecah yang merupakan slang dari seru atau asik.

Kalau kamu penyuka travelling, pasti pernah dengar ungkapan “percuma tua punya banyak uang, jika tak pernah kemana-mana”. Kira-kira begitulah pesan yang ingin disampaikan Christian Sugiono dari kelas ini.

Dari kiri ke kanan, Nauval Yazid (moderator), Anggia Kharisma (produser), Gina S. Noer (penulis skenario) dan Yandy Laurens (sutradara) mengisi kelas Rebooting Classic Content to New Audience/Selipan/Raja Lubis

Selain kelas travelling, saya pun mengikuti kelas Scalling Up Your Cullinary Business, Rebooting Classic Content to New Audiences: Keluarga Cemara the Movie, dan The Rise of Food Tourism. Dari semua kelas yang diikuti, saya bisa mengambil satu kesamaan dari para pembicaranya: hasrat atau passion. Menurut mereka, untuk masuk ke industri kreatif, kita memang harus punya hasrat yang tinggi, bukan sekadar ikut-ikutan tren.

Bicara 16 Sub Sektor Industri Kreatif

Gelaran Idetalks ini nggak lepas dari 16 Sub Sektor Industri Kreatif yang sudah ditetapkan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Hal ini sejalan dengan tujuan Ideafest 2018 untuk turut mengembangkan industri kreatif di Indonesia yang diyakini menjadi modal utama pembangunan bangsa. Dijelaskan pula oleh Presiden Joko Widodo saat membuka Ideafest 2018, bahwa Indonesia harus menjadi generasi kreatif dan bisa ‘hidup’ dari apa yang dilakukannya di industri kreatif.

Nah, yang dimaksud dengan 16 sub sektor itu adalah aplikasi dan pengembang permainan, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi, dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, & televisi dan radio.

Di Lower Lobby tempat berlangsungnya Ideatalks, pengunjung bisa memanfaatkan waktu menunggu dengan permainan. Salah satunya game yang disediakan oleh Narasi TV/Selipan/Raja Lubis

Nah, kamu sendiri apa sudah menemukan bidang yang jadi hasrat kamu belum?

Komentar:

Komentar