Review Wiro Sableng: Adaptasi Layar Lebar Perdana dari Sosok Pendekar di Tengah Merajarelanya Film Horor

Muridnya Sableng, gurunya Gendeng!

:

Anak-anak generasi 90an mungkin ingat dengan satu judul sinetron yang mengisahkan sosok pendekar bernama Wiro Sableng. Siapa sangka di tahun 2018 ini sosok yang juga punya julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 tersebut diangkat ke dalam layar lebar dengan judul lengkap: Wiro Sableng – Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Adaptasi layar lebar sebagai nostalgia penggemar fanatiknya

Saya bukanlah penggemar fanatik Wiro Sableng yang membaca kisahnya dalam bentuk novel, atau rajin menonton adaptasinya di televisi sewaktu kecil. Yang saya tahu, Wiro Sableng adalah satu sosok pendekar yang diasuh dan diangkat menjadi murid oleh Sinto Gendeng. Berbekal ilmu yang diturunkan oleh sang guru, Wiro berpetualang melawan kejahatan dengan bermodal senjata kapak maut 212.

via uzone.com

Layaknya film perdana dari karakter yang udah cukup dikenal, penonton bakal disuguhi kisah ‘lahirnya’ Wiro Sableng (Vino G. Bastian) ini dari kecil hingga dewasa. Sebagai bumbu aksi, Wiro yang merupakan seorang pendekar diceritakan bakal menghadapi satu musuh utama bernama Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) sambil juga menghadirkan banyak karakter lain yang bisa memanjakan penggemar fanatiknya sebagai nostalgia.

Karakter yang hadir keroyokan

Sebagai sebuah film yang menjadi adaptasi perdana dari Wiro Sableng di layar perak, sosok Wiro anehnya malah kurang dieksplorasi sebagai bintang utama. Saya agak menyayangkan dengan hadirnya sosok Anggini (Sherina) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarizi) di tengah usaha seorang Wiro melawan Mahesa.

Banyaknya karakter yang ditampilkan juga menjadi satu kelemahan tersendiri karena saya agak bingung untuk sekadar mengenal karakter yang hadir dengan keroyokan di film ini. Sepanjang film, saya hanya bisa mengingat nama karakter Wiro Sableng, Mahesa Birawa, Anggini (Sherina), Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarizi), Sinto Gendeng (Ruth Marini), Dewa Tuak (Andy /rif), dan Kakek Segala Tahu (Yayu Unru). Selebihnya? Saya enggak ingat.

Bujang Gila Tapak Sakti, Anggini, Wiro Sableng: Tiga pendekar utama dalam Wiro Sableng/via idntimes.com

Mungkin ini akhirnya yang bikin film Wiro Sableng dibintangi oleh banyak nama yang udah cukup dikenal di dunia hiburan sebagai karakter pendukung lain. Alih-alih menghapal nama tiap karakter, saya bisa menikmati sajian Wiro Sableng hanya dengan mengingat nama sang artis di dalam kepala seperti Dwi Sasono, Lukman Sardi, atau Teuku Rifnu Wikana. Saya bahkan hanya bisa mengingat sosok kedua orang tua Wiro sebagai Happy Salma dan Marcell Siahaan tanpa bisa mengingat nama karakternya. Oh iya, Marcella Zaliyanti aja bahkan cuma kebagian satu dialog singkat sepanjang film loh.

Seperti yang saya bilang di atas, Wiro Sableng emang bisa memanjakan para penggemar fanatiknya karena juga menghadirkan banyak karakter antagonis selain sosok Mahesa Birawa seorang. Tapi dengan kurang fokusnya pada penekanan karakter utama yang ada, saya malah  jadi bingung karena cerita yang disuguhkan dalam film seolah-olah hanya untuk sekadar memilih karakter paling tanggguh saj. Ya, karena ini, kharisma dari setiap karakter seolah hanya lewat dan terkesan kurang mendalam.

Plot hole dan pertanyaan menggantung

Dalam durasi dua jam, eksplorasi cerita dalam Wiro Sableng masih menyisakan beberapa plot hole dan pertanyaan menggantung yang belum terjawab, seperti maksud dan tujuan Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) yang tiba-tiba datang membantu melawan penjahat di dalam kerajaan.

Ketika Wiro pergi makan ke warung misalnya, ada satu sosok pemilik warung (Tio Pakusadewo) yang secara enggak langsung ikut bertarung membantu Wiro melawan komplotan penjahat. Sosok yang hadir tanpa nama tersebut anehnya bisa berkelahi dan mempunyai jurus yang sama dengan yang dilakukan oleh Wiro.

via idntimes.com

Kapak Maut dan Batu Hitam yang menjadi senjata andalan Wiro pun enggak diulas dengan dalam di dalam film. Kedua senjata tersebut hanya sekali terlihat gahar menunjukkan kekuatannya ketika pertama kali diserahkan oleh Sinto kepada Wiro. Pertarungan final antara Wiro dengan Mahesa yang saya harap berakhir epik juga terlihat biasa karena senjata-senjata tersebut malah enggak berperan penting dalam pertarungan.

Wiro Sableng: Sebuah film laga komedi di tengah genre horor

Secara keseluruhan Wiro Sableng tetap hadir dengan menarik. Perkenalan dari banyaknya karakter tersebut bisa dieksekusi dengan smooth untuk dikupas satu-persatu dan dirangkum menjadi satu cerita utuh dalam film. Akting dari tiap pemain juga berpadu dengan maksimal untuk menghadirkan sebuah chemistry dan kesinambungan cerita tanpa hadir bertele-tele.

via riaria.com

Spesial efek dan CGI yang sempat dinyinyirin ketika teaser trailernya dirilis nyatanya malah enggak terlalu berdampak signifikan sebagai aspek minor yang mengganggu. Hal ini berhasil tertutup dengan porsi laga yang maksimal khas film-film laga tahun 90an, serta sisi komedi lewat polah dan dialog yang bisa bikin suasana lebih cair bagi penonton.

Ditutup dengan sebuah mid-credit scene ala film Marvel, hal ini menjadi semacam petunjuk jika kisah pendekar Wiro Sableng masih bakal berlanjut untuk sebuah sekuel beberapa waktu ke depan. Wiro Sableng yang hadir di tengah masifnya genre horor juga bisa menjadi angin segar tersendiri.

Bukan enggak mungkin laga kolosal menjadi satu genre terbaru yang bakal menggeser dominasi horor di ranah perfilman Indonesia.

14 Shares

Komentar:

Komentar