4 Alasan kenapa Ringu Masih Pantas Disebut Film Horor Asia Terbaik hingga Detik Ini

Ada yang lebih seram dari hantu yang keluar dari televisi?

Jika ditanya tentang film horor Jepang terbaik, Ringu hampir selalu pasti disebut sebagai salah satu jawabannya. Padahal film tersebut dirilis tahun 1998, alias sudah berumur lebih dari dua dekade. Tapi saya, dan juga banya orang lainnya, masih belum bisa menemukan film horor lain dari tanah Asia yang mengungguli tensi dan keseraman dari Ringu.

Alasannya… kamu bisa baca di bawah.

Saya ingatkan terlebih dahulu ya sebelum kamu lanjut baca. Tulisan berikut ini mengandung spoiler bagi kamu yang belum nonton.

Esensi klasik yang menyeramkan

Ringu bercerita tentang seorang reporter yang menyelidiki kasus kematian yang diakibatkan rekaman video misterius. Siapa pun yang menonton video tersebut dipastikan bakal menemui ajal setelah tujuh hari berlalu.

“Wow, film biru ini benar-benar berwarna biru!”/via imdb.com/Toho

Kamu yang lahir pertengahan tahun 90-an ke atas, mungkin akan sedikit heran melihat media dari video terkutuk itu. Ya, video terkutuk itu tersimpan dalam kaset VHS alias Video Home System.

Tapi apakah kamu tahu kalau kaset VHS sudah berhenti diproduksi sejak tahun 2016? Dengan kata lain, VHS sudah bisa dikategorikan sebagai barang kuno atau antik. Bagi saya sendiri sesuatu yang berbau kuno itu selalu menyimpan aura khusus nan misterius dibanding benda-benda modern.

Coba kamu bandingkan:

1. Gambar video VHS yang kualitasnya nggak terlalu jernih; dan,

2. Gambar video dari DVD blu-ray yang berkualitas HD.

Mana yang lebih terasa seram, menonton video terkutuk dari VHS atau blu-ray?

Mari kita sedikit bernostalgia dengan melihat kembali VHS terkutuk dari film Ringu.

Intensitas yang “menipu”, namun sepadan dengan hasilnya

Alur dari Ringu dibangun dengan saaaaaangat lambat. Setelah kita disuguhkan adegan kematian di bagian pembuka, alur cerita kemudian didominasi oleh investigasi yang dilakukan si karakter utama, Reiko Asakawa. Sepanjang itu pula nyaris nggak ada penampakan hantu, apalagi jumpscare. Mungkin bisa dikatakan kalau 90% dari durasi Ringu diisi oleh investigasi jurnalistik dari Reiko, yang secara perlahan menguak identitas Sadako Yamamura sang antatagonis utama.

Tapi di sinilah cerdasnya Hideo Nakata. Ia berhasil memanfaatkan lambatnya alur cerita Ringu dengan sangat brilian. Sutradara yang juga membesut film Dark Water tersebut membangun tensi dan atmosfer horor dengan perlahan, sebelum menumpahkan klimaksnya di bagian penghujung film. Adegan demi adegan seperti diambil dengan cermat demi memfasilitasi adegan klimaks tersebut.

Saya merasakan betul apa yang dirasakan karakter Ryuji Takayama. Ketika ia dan Reiko merasa telah lolos dari kutukan Sadako, saya pun merasa demikian. Tapi ketika Ryuji akhirnya bertatap muka dengan Sadako, dan merasa riwayatnya hidupnya akan segera tamat, rasa lega yang awalnya menyelimuti hati saya ikut sirna.

Kengerian yang tampak di mata Ryuji saat melihat langsung Sadako, tanpa sadar saya pun jadi ikut merasakannya.

Yeaah… saya tahu perasaanmu, Ryuji-san/via horrorcultfilms.co.uk/Toho

Sadako yang ikonik tiada dua

Ringu mengenalkan kita hantu/iblis/setan wanita bernama Sadako Yamamura yang digambarkan “tinggal” di sebuah sumur. Setiap keluar dari sumur, ia selalu tampil kece mengenakan baju berwarna putih bersih seperti habis dicuci. Rambutnya pun panjang terurai seperti baru keluar dari salon.

Tapi bukan itu yang bikin Sadako menjadi karakter hantu ikonik.

Jangan bilang rahasianya cuma karena pakai Pantene/via imdb.com/Toho

Gerakan Sadako tatkala mendekati korbannya-lah yang harus digarisbawahi di sini. Kritikus asal Inggris, Mark Kermode bahkan memasukkan adegan saat Sadako berjalan keluar dari televisi sebagai salah satu momen menyeramkan dalam film. Penggunaan televisi sebagai medium keluarnya hantu juga terbilang brilian.

Sosok Sadako yang ikonik tersebut secara nggak langsung ikut membuat dirinya jadi bagian dari budaya pop. Lebih tepatnya sih budaya pop horor, di mana nama Sadako selalu terselip dalam daftar karakter antagonis horor paling menyeramkan. Media-media pun hampir selalu menyandingkan Sadako dengan hantu ikonik dari barat semacam Freddy Krueger dan Michael Myers.

Dampak yang besar untuk perfilman Hollywood

Lewat Ringu pula, perfilman horor Asia akhirnya mulai dilirik oleh dunia. Kesuksesan Ringu ibarat menjadi gerbang pembuka bagi film-film horor dari Asia. Sebut saja Ju-On atau Dark Water yang  mendapat sambutan hangat layaknya Ringu. Ketiga film tersebut bahkan dibuat ulang dalam bentuk remake oleh Hollywood.

Ju-On/via imdb.com/Lions Gate Films

Dengan kata lain, kesuksesan film-film horor Asia mungkin nggak akan sekuat seperti sekarang jika saja Ringu nggak pernah dibuat.

Kalau menurut kamu, apakah Ringu memang layak menyandang predikat sebagai film horor Asia terbaik sampai saat ini?

9 Shares

Komentar:

Komentar