Inilah 15 Kandidat Film Terbaik 2019 yang Wajib Kamu Tonton

Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti nggak masuk di daftar ini

:

(Update 17 Oktober 2019)

Nggak terasa sebentar lagi tahun 2019 bakal berganti jadi tahun 2020. Biarpun 2019 masih tersisa sekitar dua bulan lagi, banyak banget film-film keren yang rilis antara bulan Januari sampai Oktober ini. Dan berdasarkan pengalaman pribadi, waktu dua bulan itu bisa terasa sebentar, tapi juga bisa terasa lama banget.

Jadi daripada kita nunggu sampai akhir tahun, nggak ada salahnya kalau kita nyicil sedikit-sedikit buat nonton film seru yang udah rilis selama 10 bulan belakangan. Apa saya betul?

Kami di Selipan udah bikin daftar 15 film terbaik 2019 sejauh ini. Sekadar catatan, jumlah film di daftar ini masih berpotensi untuk bertambah saat akhir tahun nanti. Bahkan masih banyak film seru yang udah dirilis di luar negeri, tapi masih belum dirilis di Indonesia, seperti For Sama, The Farewell, dan Monos. Saat saya cari di situs-situs tertentu (kamu pasti tahu lah situs apa yang saya maksud), film-film itu pun masih belum tersedia.

Maka dari itu, untuk sementara nikmati saja dulu 15 film ini.

 1. Us

Universal Pictures

Sutradara Jordan Peele yang sempat menghentak dunia lewat Get Out, kembali menawarkan kita satu sajian horor yang sarat dengan kritik sosial. Dengan mengusung judul Us, kali ini Peele mengajak kita untuk menyelami horor dari doppelganger.

Saat nonton film ini, nggak tahu kenapa saya jadi teringat sama episode-episode klasik serial The Twilight Zone (yeah, saya suka nonton episode jadul yang warnanya masih hitam putih itu). Di beberapa kesempatan saya dibikin sangat nggak nyaman karena atmosfernya yang disturbing. Tapi di sisi lain, nggak jarang juga saya dibikin cekikikan karena, well, keanehan yang ada di dalamnya.


Satu lagi, permulaan film ini kelihatan kayak home invasion. Tapi jangan berharap kamu cuma bakal nonton film home invasion biasa. Us lebih dari itu. Ini film mengundang penontonnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang sifat dasar manusia.

2. John Wick 3: Parabellum

Summit Entertainment

Kamu punya teman yang sering bertingkah laku konyol, dan ia sendiri sadar betul sama kekonyolannya itu? Alih-alih berlagak cool, teman kamu itu malah memanfaatkan kekonyolannya untuk mendapat perhatian orang lain. Dan ajaibnya, orang-orang menyukainya.

Kalau mau dianalogikan, John Wick 3 mirip teman kamu yang konyol itu. Ceritanya konyol, karakter-karakternya konyol, nama-nama karakternya pun ada yang konyol. Bahkan sebagai film action, nggak jarang adegan aksinya dieksekusi dengan cara yang absurd pula.

Menunggang kuda di jalanan Kota New York? Saya sampai ketawa ngakak saat lihat adegan ini.

Tapi mungkin kekekonyolan sederhana itulah yang jadi ciri khas dan daya tarik dari setiap seri John Wick, nggak terkecuali seri ketiganya ini. Dan jangan lupakan juga, sisi aksinya pun layak mengundang decak kagum.

Jangan pernah berubah, John. Tetaplah seperti itu.

3. Toy Story 4

Walt Disney Pictures

Satu harapan saya, semoga Pixar nggak bikin lagi sekuel dari Toy Story. Biarkan seri keempatnya jadi film terakhir deh. Kecuali… kecuali kalau Pixar sanggup melanjutkan petulangan Woody dkk. dengan lebih emosional di Toy Story 5.

Yup, film ini punya makna emosional lumayan besar buat mereka yang tumbuh besar di era 90-an. Tapi Toy Story 4 tentu nggak akan mengundang banyak pujian kalau hanya mengandalkan nostalgia doang ‘kan? Coba kamu tanya ke diri sendiri, apa kamu dibuat bosan saat menontonnya?

Saya yakin jawabannya nggak. Sedari film pertamanya sampai seri yang keempat ini, Pixar masih sanggup membuat karya yang menghibur lewat lelucon-lelucon jenakanya, penambahan karakter baru yang gampang kita sukai, sekaligus isu filosofis yang disisipkan secara implisit.

4. Shazam!

Warner Bros. Pictures

Jika Marvel punya Deadpool, DC punya superhero kenanak-kanakan dalam diri Shazam! Well, di mata saya, ia nggak sekonyol Deadpool sih. Tapi hadirnya Shazam! membuktikan kalau film superhero DC bisa dibawa ke arah yang lebih ringan.

Meskipun Shazam! merupakan contoh pahlawan super yang punya keunikan tersendiri dibandingkan mayoritas superhero DC, berkat film ini saya jadi berharap semoga Warner Bros. dan DC mau memproduksi lebih banyak film superhero yang bernuansa mirip kayak Shazam!

5. Pokemon: Detective Pikachu

Warner Bros. Pictures

Saya pernah menulis artikel yang membahas tentang, kenapa banyak film adaptasi video game yang berakhir mengecawakan? Detective Pikachu jelas merupakan pengecualian. Saya mesti angkat topi terhadap cara film ini diarahkan.

Ceritanya memang nggak terlalu berat buat dicerna, karena memang film ini ditujukan buat ramah keluarga. Tapi yang paling bikin saya nggak nyangka, kisahnya mengandung twist yang diramu dengan cukup meyakinkan. Walaupun sayangnya, cara penceritaan dan struktur plot secara keseluruhan cenderung kurang rapi.

Tapi hey, ini film tentang Pokemon, bukan biografi Einstein. Terlepas dari kekurangannya, beberapa kali saya nggak sadar terbawa suasana saat mantengin layar. Dilihat dari sisi hiburannya, Detective Pikachu udah lebih dari memuaskan.

6. Avengers: Endgame

Walt Disney Pictures

Kalau nggak dieksekusi dengan apik, film yang durasinya lama itu bisa sangat membosankan buat ditonton. Tapi dengan durasinya yang lebih dari tiga jam, Avengers: Endgame sanggup membuat banyak penonton rela menahan pipis di bioskop.

Apa aja poin keunggulan dari Endgame, itu nggak bakalan muat kalau ditulis di artikel listicle kayak gini. Bila kamu mau baca opini singkat kami tentang Avengers: Endgame, silakan buka artikel ini:

Hey, saya sendiri jadi pengin nonton lagi nih. Tapi saya yakin, kamu yang udah nonton pun nggak bakalan bosan kalau nonton ulang Endgame. Ini film memang layak ditonton berapa kali pun.

7. Spider-Man: Far From Home

Walt Disney Pictures

Dibandingkan The Amazing Spider-Man yang dibintangi Andrew Garfield, Spider-Man: Far From Home jauh lebih amazing.

Oke, katanya sih, membanding-bandingkan suatu hal dengan hal yang lain tuh bukan perbuatan bagus ‘kan? Jadi, mari kita pandang film ini sebagai film yang berdiri sendiri.

Tapi yaah, sebagai film yang berdiri sendiri pun, Spider-Man: Far From Home tetap amazing.  Semuanya kelihatan seimbang dalam artian yang positif: mulai dari pengembangan ceritanya yang jadi pembuka pasca-End Game, akting para aktornya dan chemistry yang terjalin di antara mereka, humor-humor ala Spider-Man versi komik yang diaplikasikan dengan baik, Jake Gyllenhaal sebagai Mysterio, dan twist mengejutkan di bagian ending.

8. Once Upon a Time in Hollywood

Sony Pictures

Komedi gelap, kebrutalan yang berlebihan, tragedi, isu kontroversial, semua itu berbaur menjadi satu dalam film kesepuluh dari Quentin Tarantino ini. Walaupun, memang hampir semua film Tarantino pasti mengandung unsur-unsur itu sih.

Mengambil setting di tahun 60-an, Once Upon a Time… in Hollywood menggambarkan bagaimana budaya pop pada masa itu memengaruhi pola pikir individu, khususnya di industri perfilman. Keluarga Manson yang jadi salah satu inspirasi dan bahan untuk film ini (dan juga cara Tarantino menggambarkannya) patut mendapat perhatian lebih. Karena merekalah yang bakal jadi kunci dari bagian klimaksnya yang gila.

Satu poin tambahan: tanpa bermaksud melebih-lebihkan, akting dari duet Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt benar-benar mengagumkan di film ini.

9. Parasite

CJ Entertainment

Film ini nyaris tanpa cela, kalau nggak bisa disebut sempurna. Jika nggak ada lagi film yang lebih keren di sisa tahun 2019 ini, bakalan mudah buat saya untuk menjatuhkan pilihan film terbaik 2019. Tanpa ragu saya bakal memilih Parasite.

Di separuh awal durasi, nggak terhitung berapa kali saya dibikin ketawa terpingkal-pingkal oleh sajian komedi gelap dari anggota keluarga Kim. Tapi apa yang paling mengena dari film ini adalah kritik pedasnya terhadap ketimpangan sosial. Dalam sistem kapitalistik yang mendominasi dunia saat ini, seringkali tindakan kriminal yang dilakukan seseorang memang bersumber dari kondisi hidupnya yang diliputi kemiskinan.

Dan lewat Parasite, sutradara Bong Joon-Ho melemparkan realitas kelam dari masyarakat kita yang terbagi-bagi ke dalam kelas sosial… dengan cara yang sangat menohok sekaligus elegan.

Saya nggak pernah kasih skor untuk menilai film (karena saya merasa diri bukan kritikus film profesional). Tapi khusus untuk Parasite, saya pengin membuat pengecualian.  Film ini layak banget buat dapat skor 10 dari total skor 10.

10. Midsommar

A24

Kalau mau diringkas, Midsommar itu punya kemiripan yang kental dengan film Ari Aster sebelumnya, Hereditary. Salah satunya, mereka sama-sama melibatkan sekte.

Midsommar sendiri bukanlah film horor yang mengandalkan jumpscare atau penampakan hantu yang wujudnya, gimanaaa gituh. Ia lebih memilih untuk memancing rasa takut dalam diri penonton dengan cara mempermainkan sisi psikologis kita, membuat kita merasa sangat nggak nyaman saat memandangi layar.

Ini juga bukan film horor yang bisa bikin semua orang terkesan, sekalipun orang itu pada dasarnya merupakan pencinta horor. Tapi Midsommar punya kualitas yang bisa bikin ia berpotensi besar jadi salah satu karya horor klasik.

11. Booksmart

United Artists Releasing

Olivia Wilde menunaikan tugasnya dengan baik dalam debutnya sebagai sutradara. Ia mampu memberi kita film komedi yang memang beneran lucu dan cerdas. Dan ia melakukannya lewat film bertema Anak SMA, tema yang udah sering banget dipakai di genre komedi.

Kalau kita menilik genre komedi secara keseluruhan, Booksmart memang kurang menampilkan sesuatu yang baru. Tapi buat kamu yang lagi butuh hiburan, film ini wajib jadi pilihan utama.

Kalau kamu termasuk tipe orang yang selama ini selalu fokus belajar, sampai lupa caranya bersenang-senang, mungkin kamu bakal lebih merasa terhubung sama apa yang dialami oleh Molly dan Amy.

12. The Last Black Man in San Fransisco

A24

Apa pesan moral yang pengin disampaikan oleh The Last Black Man in San Fransisco? Mungkin yang paling kentara adalah kisah tentang persahabatan yang diwakili oleh dua karakter utamanya, Jimmie Fails dan Montgomery.

Tapi saya merasakan sesuatu yang lebih dalam dari film ini, sesuatu yang berhubungan dengan pencarian tujuan hidup, sudut pandang orang kulit hitam di Amerika, dan bagaimana sejarah serta lingkungan bisa memengaruhi pola pikir seseorang. Contoh yang paling bagus bisa kamu lihat dari obsesi Jimmie untuk mengambil alih kembali rumah yang dibangun kakeknya. Tapi begitu kamu lihat gimana ujung dari perjuangan Jimmie, beuh… rasanya sedih nggak terkira. Menusuk ulu hati banget.

13. The Art of Self-Defense

Bleecker Street

Mungkin sebagian besar pria di planet bumi yang tercinta ini masih menganggap kekuatan adalah kunci agar cowok bisa disebut maskulin. Apa? Kamu juga termasuk orang yang berpikiran kayak begitu?

Tunggu dulu… baiknya kamu tonton The Art of Self-Defense. Ini adalah film satir yang menyindir habis-habisan, bahkan seakan menertawai, pandangan tradisional soal maskulinitas. Dan saya harus bilang, caranya dalam menyindir beneran kocak banget.

Jesse Eisenberg sekali lagi memerankan karakter pria culun penakut yang kemudian berkembang mengalahkan kelemahan dirinya. Dan ia kayaknya memang lebih bisa mengeluarkan potensinya saat memerankan karakter seperti itu deh, seperti yang dilakukannya di film Zombieland.

14. Crawl

Paramount Pictures

Sebagai penikmat genre horor dan thriller, saya mengagumi film High Tension besutan sutradara asal Prancis, Alexander Aja. Tapi saya juga nggak menyangka ia bisa membuat film seperti Crawl – yang menceritakan teror serangan aligator – jadi begitu menegangkan. Maklum, saya masih teringat sama Piranha 3D, film horor yang juga disutradarai Aja, tapi lebih kelihatan kayak film horor kelas B.

Crawl sebenarnya dibangun dengan simpel banget. Ceritanya berpusat pada ayah dan anak yang berusaha bertahan hidup dari terkaman gigi tajam aligator. Tapi kesederhanaan itu nyatanya mampu menumbukan rasa simpati saat saya melihat perjuangan Haley sang karakter utama. Keputusan untuk memusatkan fokus pada hubungan dua orang manusia dan sekelompok aligator terbukti sangat jitu, meskipun sulit memungkiri performa brilian Kaya Scodelario yang memerankan Haley jadi penggerak utama intensitas film.

15. El Camino: A Breaking Bad Movie

Netflix

Sangat nggak disarankan untuk nonton El Camino tanpa terlebih dahulu nonton serial TV orisinalnya, Breaking Bad. Ini film yang berfungsi sebagai sekuel dari salah satu serial TV terbaik sepanjang masa tersebut.

Selayaknya Breaking Bad, alur dari El Camino cenderung lambat. Saya nggak akan terkejut kalau ada penonton yang dibikin bosan oleh film ini. Tapi sekali lagi, keistimewaan El Camino nggak akan bisa  terlihat jika kamu nggak tahu apa pun tentang Breaking Bad.

Sebutlah itu karena faktor nostalgia, atau akting luar biasa dari Aaron Paul, atau sentuhan magis dari sang kreator sekaligus sutradaranya, Vince Gilligan, El Camino pasti bakal bikin semua penggila Breaking Bad kegirangan.

Masih belum puas sama daftar filmnya? Kalau begitu, sampai jumpa lagi awal tahun 2020, saat semua film terbaik 2019 udah rilis semuanya!

Komentar:

Komentar