Survivorship Bias: Pemikiran yang Bisa “Menghalangi Mata” Kamu dalam Memandang Kesuksesan


Kesuksesan dan kegagalan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan. Saya rasa anak SD pun tahu tentang itu. Bahkan semenjak kamu kecil, kemungkin besar orangtua kamu sudah menanamkan pemikiran, sekaligus harapan, agar kamu bisa jadi orang sukses kelak.

Apakah ada yang salah dengan hal itu? Tidak, tidak ada yang salah. Semua orang normal pasti ingin cita-citanya terwujud dan berhasil meraih kesuksesan yang meraka idamkan dalam hidup.

Tapi, bayangkan skenario ini terjadi dalam hidup kamu:


Karena semenjak kecil kamu sudah berniat ingin jadi orang sukses, maka ketika beranjak dewasa kamu mulai mencari tahu apa saja faktor yang bisa mendatangkan kesuksesan. Kamu melakukannya dengan berbagai cara, seperti membaca kisah hidup orang-orang sukses nan kaya raya seperti Bill Gates atau Mark Zuckeberg. Melihat kesuksesan kedua orang itu, hati kamu pun tergerak. Kamu berpikir, “Bill Gates dan Mark Zuckeberg yang drop out semasa kuliahnya saja bisa sukses, masa saya nggak bisa meniru mereka!?”

Kemudian, apa yang kamu lakukan selanjutnya adalah memberi tahu keluarga bahwa kamu akan keluar dari pekerjaan yang telah ditekuni bertahun-tahun untuk membuka usaha/bisnis. Dan kamu melakukannya tanpa pikir panjang; hanya karena tergiur oleh kesuksesan orang lain (yang bahkan tidak kamu kenal betul).

Jika skenario semacam itu sampai terjadi pada seseorang, itu tandanya orang tersebut memiliki tendensi survivorship bias atau bias kebertahanan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang survivorship bias, kamu bisa baca penjelasaan yang telah dirangkum dari berbagai sumber di bawah ini.

Apa itu Survivorship Bias?

Jika dijelaskan secara sederhana, survivorship bias adalah pemikiran yang cenderung (kalau tidak bisa dikatakan terlalu) mengarah pada kesuksesan. Saking fokusnya tendensi yang dimiliki seseorang dalam memandang kesuksesan, sampai-sampai ia melupakan satu realitas pahit dari kehidupan, yakni kegagalan. Ya, seperti nama yang disandangnya, survivorship bias membuat orang hanya memberi perhatian pada mereka yang “selamat” (survivor), tapi melupakan mereka yang “tidak selamat”.

376143268_8655d3fbef_b
via flickr.com

Contohnya bisa kita ambil dari dunia usaha atau bisnis. Misalnya saja, kita tertarik menyelami suatu jenis usaha karena terpengaruh oleh beberapa pengusaha yang terbukti sukses di bidang tersebut. Tapi satu hal yang kita lupakan: dari beberapa pengusaha sukses itu, ada ribuan pengusaha lain yang gulung tikar karena kalah bersaing.

Kita tidak tahu seberapa banyak jumlah pengusaha yang tumbang itu, dan bagaimana kisah mereka dalam mengalami kemunduran sampai jatuh bangkrut. Itu wajar, karena orang yang gagal sangat jarang menulis buku atau memberikan kuliah tentang kegagalan mereka. Mungkin karena banyak orang yang lebih senang mendengar cerita tentang kesuksesan ketimbang belajar dari pengalaman pahit? Entahlah.

Lalu, apakah survivorship bias hanya mungkin dialami seseorang di dalam dunia bisnis?

Di Mana Saja Survivorship Bias Berpotensi “Menerjang”?

apocalyptic-374208_960_720
via pixabay.com

Tidak hanya dalam dunia bisnis, survivorship bias bisa terlihat di banyak bidang. Sebagai contoh, bidang militer, pendidikan, medis, atau bahkan bidang yang cenderung subjektif seperti seni dan sastra. Tendensi ini juga bisa hadir dalam pemikiran tanpa kita sadari, atau bisa juga terdorong masuk karena pemberitaan yang kita baca dan dengarkan.

Misalnya… anggap saja saya memiliki sekolah yang punya reputasi bagus. Sebagian besar murid-murid saya berhasil masuk ke universitas unggulan. Data yang ada pun mendukung reputasi ciamik sekolah saya. Dengan berbagai fakta tersebut, lalu saya lebih gencar mempromosikannya agar kamu tertarik menyekolahkan anak kamu ke tempat saya. Kamu pun akhirnya memasukkan si anak ke sekolah saya karena ingin dia masuk ke universitas ternama kelak.

Lantas, apa dengan memasukkan si anak ke sekolah saya bakal menjamin dia masuk ke universitas idaman?

Belum tentu, karena “hanya” sebagian besar murid yang menjadi survivor. Sisanya tidak berhasil masuk universitas ternama. Tapi, mata kamu seolah dibutakan oleh pemberitaan yang beredar. Kamu tidak lagi ingat bahwa setiap anak punya kepribadian, kebiasaan, dan kemampuan yang berbeda.

Intinya, kamu hanya melihat sesuatu hal dari satu sisi, tapi melupakan sisi lainnya yang tak kalah penting. Dan saya punya peran dalam menihilkan dan menyembunyikan sisi terlupakan itu dari mata kamu.

Maka dari itu, kita sebaiknya…

Berpikir secara Realistis

pexels-photo-212286
via pexels.com

Informasi yang ada dalam artikel ini tak bertujuan untuk menakut-nakuti atau menjatuhkan semangat kamu dalam menjalani kehidupan. Sebaliknya, ada baiknya jika kita mencermati segala sesuatu tidak hanya dari satu sudut pandang; dalam kasus ini, yakni sisi positifnya saja. Tak peduli seberapa pahitnya kegagalan seseorang yang akan kita dengar, jadikan kegagalan itu sebagai bahan pertimbangan agar kita tidak salah melangkah.

Bukan berarti mendapat inspirasi dari pengalaman orang-orang sukses itu hal yang salah. Tapi, terlalu optimis dapat mendulang kesuksesan seperti yang mereka raih juga bisa berpotensi menjadi bumerang yang nantinya menghantam kita. Oleh karenanya, kelemahan diri sendiri serta realitas kondisi di sekitar kita merupakan hal penting yang harus kita kenali dan amati.

Bill Gates, misalnya, punya kondisi-kondisi tersendiri yang tidak kita punyai. Mungkin dia punya keuntungan di sisi iklim usaha, persaingan yang tidak terlalu ketat, modal besar, keberuntungan, dan sebagainya. Mencoba meniru apa yang dia lakukan tanpa mengenali kelemahan diri serta realitas sekitar bisa disebut langkah awal untuk “bunuh diri”.

Mengutip perkataan Sun Tzu dulu (dengan beberapa perubahan dari saya), kenali diri sendiri dan kondisi sekitarmu terlebih dahulu sebelum merasa optimis untuk terjun ke medan perang. Setuju, kan?



Shares 123
Previous Bro, Ternyata Paus Juga Bisa Tidur Kayak Kita-kita Lho!
Next Punya Banyak Foto Liburan? Cobain Ini Deh Sebelum Kamu Posting ke Akun Media Sosialmu