Antara Monophasic, Biphasic, dan Polyphasic: Mana Pola Tidur yang Paling Cocok buat Kamu?


Berapa kali kamu tidur dalam satu hari?

Umumnya, orang-orang zaman sekarang tidur sekali dalam sehari. Yup, karena harus melakukan berbagai aktivitas di siang hari, kita jadi terbiasa tidur hanya pada malam hari dan bangun keesokan paginya. Pola tidur satu kali dalam sehari ini disebut dengan monophasic.

Selain pola tidur monophasic, sebenarnya ada dua macam pola tidur lain, yakni biphasic dan polyphasic. Seseorang memiliki pola tidur biphasic jika orang itu membagi waktu tidurnya jadi dua kali dalam sehari. Sedangkan polyphasic merupakan pola tidur yang mengharuskan seseorang membagi waktu tidurnya menjadi beberapa kali dalam sehari.


Selanjutnya kita akan mengupas lebih jauh 3 macam pola tidur polyphasic yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

*Catatan: pada tahun 2015, National Sleep Foundation menyebutkan dalam jurnalnya bahwa orang dewasa muda yang umurnya berkisar antara 18-25 tahun memerlukan waktu tidur 7 sampai 9 jam. Namun, mengingat tuntutan rutinitas sehari-hari (ayolah, sekolah atau tempat kerja mana yang punya jadwal tidur siang?), saya akan sebut 6 jam sebagai batas waktu tidur paling minimal dalam artikel ini.

via polyphasicandexercise.blogspot.com

1. Everyman – 4 Kali Tidur dalam Sehari

Lebih tepatnya, pola tidur ini terbagi jadi satu waktu tidur utama dan tiga waktu tidur kilat. Waktu tidur utama selama 3,5 jam dilakukan pada malam hari, sedangkan waktu tidur kilat (3 x 20 atau 30 menit) disebar pada waktu pagi hingga siang hari. Total waktu tidur yang bisa kamu dapatkan dari metode ini adalah 4,5 – 5 jam sehari.

Jadi, katakanlah kamu tidur dari jam 21.00 hingga 00.30. Kamu bisa menjadwalkan lagi waktu tidur pada jam 04.00, 08.00, dan 14.00.

Metode polyphasic yang satu ini cenderung paling mudah diterapkan dan aman jika dibandingkan dua metode lainnya. Satu keuntungan lainnya adalah, meskipun waktu tidur kamu jadi kurang dari 6 jam, pola tidur everyman membuat kamu punya lebih banyak waktu untuk beraktivitas. Kalau kamu orangnya sibuk, pola tidur ini bisa membantu.

2. Dymaxion – Tidur 2 Jam Sehari

via pixabay.com

Satu hal yang patut diingat dari pola tidur ini adalah: tak semua orang bisa melakukannya. Hanya segelintir orang, atau mereka yang punya gen DEC2 (gen yang membuat seseorang bisa tetap bugar dan aktif meski tidur kurang dari 6 jam), yang bakal tahan tidur cuma 2 jam sehari.

Pola tidur ini memerlukan pembagian waktu yang merata, 4 x 30 menit waktu tidur dengan selang setiap 6 jam sekali. Misalnya, kamu tidur jam 03.00 lalu bangun 30 menit setelahnya. Jam 09.00, kamu sudah harus tidur lagi. Begitu pula pada jam 15.00 dan 21.00.

Meskipun hasilnya kamu bisa terjaga selama 22 jam dalam sehari, tapi jika kamu tak kuat, kesehatan kamu bisa jadi taruhannya.

3. Uberman – Pola Tidur yang Butuh Kedisiplinan

Ada dua cara untuk “memakai” metode yang hampir serupa dengan dymaxion ini. Pertama, kamu bisa tidur 6 x 20 menit setiap 4 jam sekali. Jadi, total waktu tidur adalah 120 menit atau 2 jam dalam sehari.

Cara kedua, kamu juga bisa menambah ronde tidur jadi 8 x 20 menit. Hasilnya, waktu tidur kamu akan bertambah 40 menit, meskipun di sisi lain kamu harus tidur setiap 3 jam sekali.

Konon, efek dari pola tidur ini adalah kamu bisa tidur di mana pun dan kapan pun dengan sangat cepat. Beberapa praktisi metode ubermen juga mengatakan bahwa mereka acapkali mengalami lucid dream. Tapi (lagi-lagi) yang harus diperhatikan dari metode ini adalah perlunya kedisiplinan tinggi. Karena sekali saja kamu melewatkan ronde tidur, maka kamu bakal merasa pusing dan lelah yang amat sangat.

Ketiga metode di atas termasuk ke dalam polyphasic. Selanjutnya kita akan membahas tentang biphasic.

4. Biphasic

via pixabay.com

Pola tidur yang punya nama lain siesta ini sebenarnya cenderung umum dilakukan. Caranya pun tergolong simpel. Kamu hanya perlu tidur selama 4,5 sampai 6 jam di malam hari, lalu tidur siang selama 30 hingga 90 menit. Total waktu tidur bervariasi pada masing-masing orang. Tapi intinya, waktu tidur minimal 6 jam (bahkan 7-8 jam) dalam sehari bisa terpenuhi.

Alternatif lain, kamu juga bisa…

5. Tidur Lagi Saat Subuh Setelah Sengaja Bangun di Tengah Malam

Katakanlah kamu sudah pergi tidur jam 20.00. Kamu terlelap selama 4 atau 5 jam, dan bangun sekitar pukul 00.00/01.00. Setelah terbangun, kamu bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan aktivitas seperti beribadah atau sekadar membaca buku/belajar sebelum pergi tidur kembali sekitar jam 03.00.

Tidurlah selama 2 jam dan bangun sekitar pukul 05.00. Dengan begitu, kamu pun telah memperoleh waktu tidur yang cukup; sekitar 6-7 jam.

Lalu Manakah Pola Tidur yang Paling Baik?

via pixabay.com

Itu semua tergantung sama kemampuan yang kamu miliki dan kegiatan yang kamu lakukan di siang hari. Meskipun kamu bisa melakukan metode uberman, kalau kamu punya jadwal aktivitas yang kaku, kamu tak akan bisa pergi tidur setiap 3 atau 4 jam sekali karena situasi tidak memungkinkan kamu melakukannya.

Namun satu hal yang harus ditekankan, karena kebanyakan orang terbiasa mengikuti pola tidur monophasic, itu bukan berarti pola tidur biphasic dan polyphasic tidak bisa disebut normal.

Tidur siang dalam metode biphasic punya banyak manfaat seperti membuat tubuh dan pikiran kembali segar, meningkatkan daya kognitif dan memori, memperbaiki mood, mengurangi tingkat stres, dan menunjang produktivitas. Orang-orang di beberapa negara, seperti Spanyol, bahkan menjadikan tidur siang sebagai kebiasaan.

Sekarang bandingkan jika kita terus beraktivitas sepanjang hari tanpa pernah tidur siang. Bukankah terasa lebih melelahkan? Oleh karena itu, pola tidur biphasic sepertinya memang lebih baik daripada pola tidur monophasic.

Sedangkan untuk pola tidur polyphasic seperti uberman atau dymaxion, walaupun itu bisa membuat kamu jadi punya lebih banyak waktu untuk beraktivitas, bukan berarti serta-merta kamu harus memaksakan diri untuk mencobanya.

Alasannya seperti yang sudah disebutkan: tak semua orang bisa tahan tidur kurang dari 6 jam per hari. Seperti dikutip dari Restonic, Claudio Stampi, seorang ahli tentang tidur dari Boston, AS, bahkan tak menyarankan orang yang sudah terbiasa mengikuti pola tidur monophasic dan biphasic untuk mencoba beradaptasi dengan metode polyphasic.

Lebih baik membiasakan diri untuk rutin tidur siang sejauh itu tidak mengganggu aktivitas penting kamu. Tapi, bagaimana tanggapan kamu sendiri soal tidur siang? Apa kamu masih melakukannya sekarang, atau hanya saat kamu masih kecil?



Shares 30
Previous Menurut Kamu, 6 Aktor dan Aktris ini Nyesel Nggak ya Habis Nolak Peran di Harry Potter?
Next Lucu! 9 Meme Perbedaan Anak SMA vs SMK Ini Bikin Kamu Mesam-mesem Sendiri