Real Men Have Beards, Emang Iya? Baca Dulu Disini Biar Nggak Salah Paham!

Pernah denger quote ini nggak bro?

Real men don’t shave

atau

- Advertisement -

Real men have beards

Yup, 2 quote diatas menggambarkan betapa sakralnya janggut bagi kaum adam. Janggut sendiri sejauh ini telah sukses memberikan beberapa perdebatan, perbincangan dan kontroversi dari jaman ke jaman.

Advanced Dermatology bahkan sampai membuat infografis mengenai budaya perjanggutan, mulai dari ribuan tahun yang lalu jaman Mesir Kuno sampai dengan pertengahan abad ke-20. Dan nggak menutup kemungkinan bahwa maraknya trend seputar janggut dan kumis bisa membawakan cerita tersendiri nantinya untuk anak cucu kita nanti.

Emang seperti apa sih sejarah janggut dari jaman ke jaman? Langsung aja biar nggak penasaran ya.

Janggut di Jaman Mesir Kuno (3100 Sebelum Masehi – 332 Sebelum Masehi)

Gaya janggut Mesir Kuno via robvanlinda.de

Pria-pria elit di Mesir biasa merumitkan diri dalam merawat janggut mereka, biasanya sih dicelupin terus dijilat dililit dengan benang emas. Tujuannya biar kece kali ya.

Pada periode dinasti justru kebalikannya, rambut dianggap sebagai tanda masyarakat kelas bawah, maka dari itu banyak dari mereka yang mencukur habis rambut di tubuh mereka, bahkan termasuk idep atau bulu mata.

Janggut di Jaman Mesopotamia (3100 SM – 539 SM)

Gaya janggut Mesopotamia via archaeologistforhire.wordpress.com

Para pria menghabiskan waktu mereka untuk mengeritingkan dan menjaga panjang janggut mereka. Semakin panjang dan semakin stylish jenggotnya maka semakin tinggi kelas pria tersebut. WOW! Bahkan biasanya si jabatan paling tinggi disana mempunyai jenggot paling panjang juga. Rapunzel versi cowok nih.

Janggut di Jaman Yunani Kuno (800 SM – 500 SM)

Aristoteles via www.baldingbeards.com

Pada jaman Yunani Kuno janggut dianggap sebagai simbol kejantanan, kedewasaan dan kebijaksanaan. Akan tetapi para pria di jaman tersebut akan memangkas janggut mereka sebagai tanda duka cita, dan juga sebagai bentuk hukuman bagi kaum sparta. Iya, sparta yang teriak-teriak THIS IS SPARTAAA itu.

Akan tetapi, Alexander Agung tidak mengijinkan tentaranya untuk memiliki janggut karena alasan taktis. Janggut ditakutkan akan menghambat saat berperang karena musuh bisa saja menggenggam dan menarik janggut tentara tersebut.

Janggut di Jaman Romawi Kuno (31 SM – 476 SM)

Kaiser Augustus via www.zeit.de

Karena permusuhan bangsa Romawi dengan bangsa Yunani yang sangat kental pada jaman itu, orang-orang Romawi justru mencukur habis janggut untuk membedakan mereka dengan orang-orang dari bangsa Yunani.

Cukuran pertama anak laki-laki dari bangsa Romawi dianggap sebagai peristiwa kehidupan yang penting dan bagian dari upacara keagamaan.

Janggut Suku Jerman (2000 SM – 700 M)

Janggut Suku Jerman via www.pinterest.com

Para tentara tidak diperbolehkan mencukur janggut mereka sampai mereka berhasil membunuh musuh atau membalaskan dendam atas kekalahan mereka sebelumnya.

Janggut Eropa Kuno (330 M – 1750 M)

Raja Henry VIII via englishhistory.net

Para ksatria menganggap janggut mereka sebagai tanda kejantanan dan penghormatan, akan tetapi janggut tidak begitu disukai oleh semua orang di jaman itu.

Raja Henry VIII dan Ratu Elizabeth bahkan sampai menetapkan bahwa janggut termasuk pelanggaran kena pajak meski Raja Henry VIII sendiri seumur hidupnya memelihara janggut. Ironi ya?

Janggut Amerika Kuno (1914 M – 1960 M)

The Beatles via mentalfloss.com

Tentara yang ikut perang pada Perang Dunia I tidak diperbolehkan memelihara janggut karena dapat menghalangi mereka pada saat menggunakan masker gas. Hal ini menyebabkan janggut menjadi penolakan secara budaya pada jaman tersebut.

Pemuda di tahun 50an dan 60an memelihara janggut sebagai tanda pemberontakan atas budaya ‘tanpa janggut’. Janggut mencapai tingkat populeritasnya pada akhir 1960an ketika para personil The Beatles memelihara janggut.

Lantas apa hubungannya janggut dengan agama, politik, olahraga, dan budaya modern? Lihat halaman selanjutnya ya.

- Advertisement -