Saat Hasrat buat Membandingkan Diri dengan Orang Lain Muncul, Apa yang Baiknya Kamu Lakukan?

Merasa kehidupan orang lain jauh lebih baik dari kamu?

Hmm, kamu yang memutuskan untuk membuka artikel ini, apa kamu termasuk orang yang suka membandingkan diri sendiri sama orang lain?

“Duh, si Barbara makin kaya aja nih orangnya. Sekarang dia udah punya 70 mobil mewah. Sedangkan aku? Ke mana-mana masih aja pakai otopet, itu juga cicilannya belum lunas. Ada lagi nih si James yang makin hari makin ganteng orangnya. Waktu TK aja cewek-cewek yang naksir dia kalau dihitung-hitung bisa sampai 70. Sekarang apalagi, katanya dia lagi direbutin sama 170 cewek. Sedangkan aku? Masih aja makan mie gelas sendirian di kostan.”

Oke, itu sudah cukup.


Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain sendiri punya dua efek yang saling bertolak belakang; efek postif dan negatif. Di satu sisi, itu bisa memacu diri kita buat mengejar apa yang kita mau dalam hidup. Di sisi lain, itu juga bisa membuat kita kehilangan kebanggaan dan kepercayaan pada diri sendiri, seperti yang ditunjukkan dalam contoh skenario di atas. Dan akhirnya, kita bakal sering mengeluhkan hal-hal yang sebenarnya nggak perlu kita keluhkan. Nah, efek yang terakhir ini nih yang cenderung membahayakan…

Kita lihat lebih jauh contoh-contohnya.

1. Kesuksesan = kaya raya dan punya barang-barang mahal

via flickr.com

Misalnya, kamu mendengar seseorang (yang katanya sukses) membeli mobil mewah terbaru yang harganya selangit. Dan lambat laun, karena terus mendengar hal semacam itu, kamu pun akhirnya mulai mengidentikkan arti kata kesuksesan dengan kepemilikan barang-barang mewah.

Apa yang terjadi selanjutnya udah bisa ditebak: kamu terus membandingkan pencapaian hidup kamu dengan kekayaan yang dimiliki orang lain. Kerasa ironis, nggak? Tanpa sadar tujuan hidup kamu jadi dikendalikan bukan sama diri kamu sendiri, lho.

2. Cantik itu sama dengan putih, langsing, dan seksi

via pixabay.com

Sepasang cowok dan cewek lagi mengobrol,

Cewek: “Kamu suka cewek yang kayak gimana?”

Cowok: “Aku suka yang putih, langsing, dan seksi. Kayak anak RW sebelah itu loh. Siapa tuh namanya… Katy Perry kalau nggak salah.”

Kemudian, si cewek pun mulai sering memerhatikan Katy Perry si anak RW sebelah. Ia pun berusaha mati-matian buat bisa mirip Katy Perry, walaupun sebenarnya si cewek itu sendiri bisa dibilang cantik. Dan ketika usahanya gagal, ia mulai mengutuki dirinya yang nggak secantik sang primadona RW sebelah tersebut.

3. Media sosial punya pengaruh besar di zaman sekarang

via pixabay.com

Yup, cukup buka medsos, kamu pasti bisa lihat orang yang hidupnya lebih berhasil dari kamu numpuk di sana. Nggak cuma itu, hidup mereka juga kelihatannya jauh lebih bahagia dari kamu. Mereka sering liburan keliling dunia misalnya, seakan-akan pergi ke luar negeri itu buat mereka bisa disamakan dengan menempuh perjalanan dari Bandung ke Ciamis. Hidup mereka beda banget sama hidup kamu yang membosankan. Dan coba tebak, banyak dari orang yang beruntung itu ternyata teman kamu sendiri. Ya Tuhan, hidup sungguh tidak adil!

Tapi, tunggu dulu… apa kamu benar-benar tahu gimana kehidupan orang-orang yang kamu cemburui itu? Belum tentu.

Yah, siapa tahu teman kamu yang terlihat bahagia di foto liburannya di Kepulauan Barbados itu ternyata lagi depresi; siapa tahu mobil mahal yang ada di foto itu cuma pinjaman; siapa tahu saudara kamu yang lagi tersenyum di restoran mewah itu baru saja dimarahi habis-habisan sama bosnya beberapa jam yang lalu.

Intinya sih, foto-foto yang ada di medsos itu bisa memengaruhi gimana cara kita berpikir, walaupun kita nggak tahu gimana kehidupan sebenarnya orang yang ada di foto tersebut. Jarang juga ‘kan kamu lihat ada orang yang upload momen memalukan dan menyedihkan mereka ke medsos.

Jadi, bagaimana sebaiknya?

via gubinas.lt

Bukan berarti kamu harus menghentikan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Mau gimana lagi, setiap hari kita pasti bersosialisasi sama orang lain, dan otomatis keinginan buat membandingkan diri juga bakal muncul. Menghentikan kebiasaan macam itu pasti susah banget, karena mungkin pada dasarnya kita adalah makhluk yang suka membanding-bandingkan. Jadi, membandingkan diri dengan orang lain itu bisa dibilang sesuatu hal yang normal.

Tapi, kita juga harus memerhatikan efek negatif dari kebiasaan itu, apalagi jika hal itu sudah memengaruhi bagaimana cara kita menjalani hidup dan bahkan membuat kita frustrasi. Ya, cuma karena kita masih belum memiliki apa yang orang lain miliki, bukan berarti hidup kita ini gagal. Toh, kita juga pasti punya sesuatu yang nggak dimiliki orang lain, bukan?

Maka dari itu, sebaiknya jangan jadikan kehidupan orang lain sebagai patokan tujuan hidup kamu.

Tanyakan pada diri kamu sendiri, apa yang kamu mau dalam hidup? Misalnya, jika kamu merasa iri melihat teman kamu membeli mobil baru (atau pesawat tempur, terserah), tanyakan “Apa saya pengen mobil baru karena saya memang membutuhkannya, atau cuma karena saya pengen dapat status sosial?” Jika jawabannya karena pengen stasus sosial dan dipandang keren sama orang lain, sebaiknya kamu enyahkan perasaan iri tersebut.

Dan jika kamu merasa down saat melihat teman kamu dapat kesuksesan, ingat saja bahwa setiap orang itu punya proses dan jalannya masing-masing dalam meraih kesuksesan. Kamu bahkan bisa menjadikan perbandingan itu sebagai bahan renungan untuk mengingat apa saja yang sudah kamu lakukan dalam hidup.

Kalau dalam hidup kamu sendiri gimana, apa kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain lebih berefek positif atau negatif?



Shares 18
Previous Restoran Ini Punya Tema Yang Bikin Kamu Melongo, Berani Makan Di Sini?
Next Benarkah Bau Kentut Mampu Mengurangi Risiko Terkena Kanker, Stroke, atau Serangan Jantung?